Agustus 24, 2014

Kisah Setelah Memburu Pelangi


Karena kisah Chasing Rainbows yang mengeyahkan hati
Aku berani maju 10 langkah ke tempatnya berpijak
Setelah tepat di depannya, dan dia masih sedingin ini.

Aku tak berani menatap tepat di manik matanya
Yang kulakukan hanya bersembunyi dan melihat titipanku di genggamannya.
Ah, rasanya lega.

Dari dulu aku hanya bisa menunggu, ya hanya itu yang kulakukan
Sampai aku tersadar karena kisah memburu pelangi itu
Sampai kapanpun kau tak akan pernah mendapatkan pelangi sekalipun kau memburunya
Sejak kapan pelangi jadi buruan? Apakah babi hutan sudah punah?

Begitu dengan kisahku
Sampai kapanpun juga tak akan ada yang berkembang jika aku terus menerus duduk di sini bersembunyi dari tatapannya, takkan berkembang jika aku terus menerus ada di 1000 langkah belakangnya
Maka itu, aku memutuskan menyampaikan surat ini.

Kita sudah tak mungkin bertemu, aku sudah tak mungkin melihatnya.
Lain lagi jika Allah mengizinkan kita bertemu, tentu aku takkan menolak.
Aku mulai menceritakan segala resah risau perasaanku dalam selembar kertas binder
Aku tak ingin berharap setelah ini dia cari aku, dia tatap aku, dia dekati aku bahkan…. Jangan dibayangkan.

Tapi siapa sangka beberapa hari kemudian dia bilang padaku bahwa dia sangat salut padaku?
Tapi,
Tau darimana dia, kalau itu aku?

Aku tahu bagaimana akhir kisahku ini.
Ya, semunya telah berakhir sekarang.
Aku bohong jika aku bilang aku tidak apa-apa.
Senyum yang sejak tadi merekah karena chat-nya mendadak hilang setelah aku mencerna dan meresapi maksud kata ‘salut’ dari kalimatnya.
Entahlah.....
Kurasa kalian tahu bagaimana perasaanku.
Rasa sesak itu menyergap lagi ke hatiku
Aku yang bodoh karena masih merasakan ini.
Lidahku kelu ketika keheningan menyelimuti kami.
Dia orang baik, aku tau itu.
Dia orang baik.
Dia orang baik.
Jangan tanyakan ada apa dengan suaraku, karena dengan sisa-sisa tenaga yang kumiliki aku putuskan untuk menahan paraunya suara getar dari mulutku
Jangan tanya air dari mana yang jatuh di layar smartponeku ini.
Dia orang baik, pasti akan bersama orang baik juga deh;-)

Aku harap aku segera melupakan segalanya maksudku tentang teriakan yang tak henti dilontarkan hati kecilku.
Aku harap aku bisa segera mengikhlaskan.
Aku harap itikat baiknya yang ingin menjadi temanku bisa berkomunikasi baik denganku tak membuat pertahananku goyah dan runtuh lagi.

Aku harap dia tak melupakanku…
Ugh, ada apa denganku?
Kalau itu suka-suka dia, bukan?!
Setelah ini, aku harap aku hanya akan menunggu pangeran masa depanku menjemput

Dia temanku, Dia orang baik, dan orang baik itu orang yang aku cintai. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.