Desember 29, 2012

Tahu Diri (Part 6 End~)

“Gris! Kau baik-baik saja?” seseorang dari belakang mengagetkanku. “ah kau Ken! Aku baik;)” jawabku. “Ibumu mengabariku tentang kondisimu hari ini, apakah tidak sebaiknya kau istirahat di rumah Gris?” jawabnya lagi khawatir. “Ah ibu. Aku baik-baik saja Ken! Tenanglah!:D” jawabku menyakinkannya “Baiklah kalau begitu” jawab ken.

Seven months ago~
Sama seperti hari-hari berikutnya aku mencoba agar aku bias melupakannya aku terus mencoba untuk tetap bersinar ketika Hans tidak di sini, ketika dia menghilang. Dan aku terus berusaha untuk menerima Ken aku berusaha untuk menyukainya. Setidaknya aku terus berusaha mengerti kenapa aku bisa menyukainya dan sekaligus membencinya.
Aku mendengar berita dari banyak teman-temanku, Hans dan Ara akan melanjutkan kuliah ke luar Negeri dan sepertinya mereka akan segera bertunangan di sana. Aku menarik nafasku lega.. “Huuuuuuuh akhirnya dia akan pergi lagi, haruskah aku melakukan ini?” aku mengingat perkataan Ken padaku, “Gris, jika kamu benar-benar ingin Hans tau bagaimana perasaanmu selama ini, kau harus mengatakan itu sekarang. Kamu tahu kita akan segera lulus dan melanjutkan studi di tempat berbeda, tidak aka nada kesempatan lagi”
Aku berpikir sejenak, “haruskah aku lakukan itu? Jika aku memberitahu Hans tentang perasaanku, dan jika dia menerimaku? Bagaimana dengan Ken dan Ara? Bodoh! Itu mustahil! Baiklah! Aku telah memutuskan untuk menerima Ken di dalam hidupku dan aku telah memutuskan untuk membiarkan Hans bahagia dengan pilihannya. Lagipula kami berempat akan menjadi teman baik. Aku dengan Ken dan Hans dengan Ara.” Batinku.
Pagi ini aku dan Ken mengantar Hans dan Ara ke bandara, mungkin ini perpisahan yang akan lama, mereka akan menetap bersama keluarga masing-masing di Inggris dalam waktu yang lama. Tapi yang jadi perhatikan pagi Hans, aku merasakan ada sesuatu yang ingin dia sampaikan padaku, tapi lagi-lagi aku berusaha untuk mengabaikan itu. “Ken! Gue akan sangat kangen sama lo ya! Lo harus janji sama gue jaga Grisly!” salam Hans sembari memeluk Ken. “Aku juga Gris! Aku sedikit gugup di sana ketika tidak ada orang sepertimu” kata Ara memelukku erat. “Tenanglah, kau bersama Hans! Selalu hubungi aku, oke! Dan jaga dirimu Ra” jawabku menenangkannya. Hans datang padaku dan tiba-tiba dia memelukku erat.. *deg..deg..deg.. Ada apa ini? Bukankah aku sudah…. “Gris! Tolong jaga dirimu di sini, maafkan aku gris maafkan aku yang baru menyadari keberadaanmu selama ini. Gris.. aku mencintaimu” bisiknya lembut. Tiba-tiba ada suara bising dan aku tidak bisa mendengar apa yang diucapkan Hans.  “Hans! Kau juga sahabatku! Aku aku juga akan merindukanmu” jawabku menebak-nebak jawabannya. “Baiklah kami pergi semuaaa, bye!!!” kata Ara lalu berjalan menjauh. “Sampai jumpa Gris..” Ken sembari melambaikan tangannya.
“Baiklah, ayo kita pulang Gris!”  kata Ken mengagetkan pandangaku. “Ayo! Tapi aku lapar Ken.. bisakah kita ke Restoran sebentar” kataku dengan manja kepada Ken. “Hahaha dasar kau ini! Oke, tapi kau janji akan makan banyak!?” katanya sembari berjalan menggandengku. “Iya!! Aku berjanji, kau tidak tahu siapa aku?” jawabku lagi. Ditengah perjalanan menuju restoran aku masih berpikir tentang apa yang tadi Hans katakan padaku.
Tamat..
Terimakasih semua yang sempet baca ini ataupun hanya melihat, terimakasih tolong sarannya;;)

Desember 27, 2012

SNSD Comeback Stage!!!


Haiiii para Soshiiiii!! Annyeong haseyo!! Mau share teaser 'I got a boy' dari SNSD nih;;) mereka itu cantik-cantik bangetnyaa!! gue itu suka banget loh sama foto-foto yang begini maksudnya ya gue suka fotografer so, gua berharap mereka jadi model gua #plakk! ditempong kaca-_-

Kapanlagi.com - Setelah membuat fans penasaran dengan perilisan lagu Dancing Queen, girlband Girl Generation akhirnya siap melakukan comeback untuk album ke-4, I GOT A BOY pada 1 Januari nanti.
Sesuai janji mereka, agensi Girl Generation, SM Entertainment akhirnya merilis teaser MV untuk lagu I Got a Boy pada Rabu (26/12) hari ini.

Dengan konsep penuh warna, member Girl Generation terlihat begitu ceria serta cute dan layaknya putri dari cerita dongeng. Konsep ini berbeda dengan konsep MV The Boys yang membuat Girl Generation terlihat lebih dewasa.
Comeback Girl Generation  ini menjadi yang pertama bagi mereka setelah setahun lebih, dan menjadi pembuka comeback artis K-Pop di tahun 2013, seperti dilansir allkpop.com.
Oke langsung aja, yang pertama;;)



Dan ini uuuuu cantik bangetkan eonni-eonni kita:D

Yuri

Seohyun

Hyoyeon

Jessica
Taeyeon

Yoona
Tiffany
Sunny
Sooyoong

Desember 12, 2012

Tahu Diri (Part 5)

Pagi ini aku berangkat sekolah dengan wajah yang sedikit agak pucat. Ibu telah bilang padaku, jika kau tidak sehat aku boleh istirahat hari ini. Tapi aku memutuskan untuk tetap berangkat sekolah. Aku berjalan perlahan menuju ruang kelasku, belum aku sampai kelas seseorang memanggilku dengan lantang “Grisly! Tunggu!” kata Ara sembari berlari ke arahku. “Kenapa kau tidak kembali tadi malam? Aku menunggumu, kau pasti akan menang dan menjadi Putrinya” kata Ara menyesal. “Maafkan aku maghku kambuh dan aku harus segera pulang, haha kau bisa saja. Kau lah yang menjadi Putrinya! Benarkan tebakkan ku?” kataku. “Hehe,, iya kau benar.” Jawabnya lagi sembari tersenyum. “Ara.. disini kau rupanya, aku mencarimu, tahu tidak!?” kata Hans yang tiba-tiba muncul dan memcubit pipi Ara.
“Hai.. kita bertemu lagi, aku sudah lama menghindarimu. Sungguh tak mudah bagiku rasanya tak ingin bernafas lagi, tegak berdiri di depanmu kini. Dan upayaku tahu diri tak selamanya behasil, apabila kau muncul terus begini tanpa pernah kita bisa bersama, pergilah menghilang sajalah lagi.” (Backsound)
Kenapa…..” batinku. “Ra, aku akan pergi sekarang…” jawabku meninggalkan mereka yang tak menyadari ucapanku. Aku duduk terdiam entahlah pikiranku tidak karuan. “Aku bingung! Kenapa? Ada apa dengan Hans?! Kenapa dia tidak pernah mengerti? Apa dia benar-benar tidak merasa sedikitpun kalau aku ini…. Aku.. aku tahu kami tidak akan pernah bersatu tapi setidaknya aku ingin dia tidak mencari orang lain, aku ingin sebuah keajaiban yang akan mempertemukan aku dengannya suatu hari nanti. Aku pikir dia memahami itu aku pikir dia… aku salah! Kenapa aku sebodoh ini!” batinku.  

Desember 07, 2012

Tahu Diri (Part 4)


Hari yang ditunggu-tunggu semua siswa akhirnya datang juga, nanti malam Willing’s Party akan berlangsung. Semua orang sibuk mempersiapkan dirinya masing-masing tak terkecuali aku, apalagi aku termasuk penyusun dari acara ini berlangsung. Tapi tak berarti aku tidak diizinkan untuk mengikuti acara ini. “Gris! Siapa pasanganmu nanti malam? Apa kau sudah menentukannya?” Tanya Zerlin mengagetkanku. “Zer! Kau ini kebiasaan burukmu mengagetkanku itu harus hilang! Soal itu, aku tidak tahu haha tenang sajalah temanmu ini pasti akan mendapatkan seorang pangeran.” Jawabku menyakinkan. “Baiklah aku tunggu ya! Hei kau jangan terlalu capek! Sudahlah kasih pekerjaan itu kepada anak laki-laki itu!” jawabny sambil menunjuk ke arah Ken. Ken yang sadar segera membantuku menyelesaikan pekerjaan ini. “Gris, maukah kau datang bersamaku malam ini?” katanya. “Apa? Haha baiklah! Jemput aku jam 07.00 p.m dan jangan sampai telat!” kataku tegas. “Siap Putriiii!!” lanjutnya. Kenapa harus Ken yang mengajakku duluan? Kenapa tidak orang itu?! Ahh! Aku tidak berpikir dia masih mengenalku lagi.
Waktu menunjukkan pukul 06.15 p.m. aku masih memandangi beberapa lukisanku tentang seseorang yang aku rindukan. Hans.. dia satu-satunya orang yang aku rindukan saat ini. Aku mengingat salah satu lukisankum, itu diambil saat kami sedang belajar bersama di taman belakang sekolah. Ketika itu dia tidak belajar matematika dengan serius tapi dia malah beralih belajar bermain gitar. Aku memang sedikit fasih untuk bermain alat musik, salah satunya gitar. Gitar itu aku beli dengan uangku sendiri. Maka dari itu aku sangat menyayangi gitar milikku itu. Aku melukis wajahnya yang terlihat kesal karena belum juga berhasil. “Itu lucu!”. “Grisly! Ken sudah datang. Apa kau aka segera turun?” panggil mama. “Astagfirulloh! Aku lupa! Iya tunggu sebentar, ma” jawabku lalu bergegas.
“Kau ini bagaimana, kau bilang padaku kita tidak boleh telat. Tapi kau membuat kita telat!” kata Ken meledekku. “Maafkan aku… aku benar-benar menyesal” jawabku menyesal. “Kau ini bodoh!” lanjutnya sembari mengusap kepalaku. “Kau ini, selalu memancingku untuk membunuhmu ya!! Jangan merusak rambutku, butuh 30 menit untuk merapikannya kau tahu tidak!” kataku. Ken menjemputku dengan mobilnya, di sepanjang perjalanan kami terus-menerus saling meledek satu sama lain. Ini kebiasaan kami bercanda haha ini menyenangkan.
Setelah beberapa menit kemudian kami sampai. Sudah begitu ramai di sini semua gadis memakai gaun terbaik mereka. Gadis-gadis itu juga bersama dengan pasangannya masing-masing. Semua mata tertuju padaku, entah apa yang membuat mereka begitu memperhatikanku. Aku mulai bingung dan mencari-cari apa kesalahanku. “Ken.. apakah ada yang salah padaku? Kenapa gadis-gadis itu melihatku seperti itu?” bisikku pada Ken. “Hmmm… Ya!! Aku menemukannya! Kau terlalu cantik malam ini, Gris! Lihatlah dirimu!” jawabnya memujiku. “Kau ini! Bukan waktunya kita bercanda. Tolong katakan apa ada yang salah dengan menampilanku?

Apakah bibirku terlihat terlalu mencolok? Atau bajuku terlalu jadul? Atau…” kataku dengan cepat. “Susst.. kau sangat cantik malam ini, semua orang melihatmu, karena mereka iri denganmu! Percayalah padaku, kau sangat cocok dengan gaun coklatmu itu!” katanya, menghentikan pertanyaanku. Aku memakai gaun pilihan Ibu, Ibu telah mempersiapkan gaun itu sejak dua minggu yang lalu. Gaun berwarna coklat dengan tali pita di depannya, ini adalah satu-satunya gaun yang aku sukai. Dengan rambut kepang dengan pita kecil juga sepatu highhells yang baru ku beli kemarin malam.
“Gris!! Di sini!” panggil Zerlin sembari menyuruhku datang ke tempatnya. “Baiklah, tunggu sebentar” jawabku. “Ayo kita ke sana Ken!” ajakku pada Ken. “Iya, kau duluan saja aku haus. Aku akan mengambil air minum, apa kau mau juga?” katanya. “Iya! Ambilkan untukku satu ya!” jawabku lantang. “Enak saja! Kau ambilah sendiri!:p haha” katanya meledek lalu pergi. “Huh.. dasar!” bisikku.
Dengan berhati-hati aku menuju tempat Zerlin, ini pertama kalinya aku menggunakan HighHells itu pun Ibu yang menyarankan. Aku terbiasa menggunakan sepatu sport atau slop. “Hai Zer! Apa kau sudah datang dari tadi? Hei, kau terlihat cantik!” kataku. “Ya, aku datang tepat pada waktunya. Apa kau terlambat? Haha terimakasih, apa kau baru sadar?:p” jawabnya meledekku. “Wow kau sungguh rajin! Hehe maafkan aku.. kau ini aku puji malah semakin makin-__-” kataku. “Gris! Kali ini aku akan berkata jujur padamu. Kau sungguh cantik!! Haha, pertahankan dandananmu itu!:p Oya ngomong-ngomong kau ke sini dengan siapa? Apa dengan Hans? Itu hebat! Apa kau sudah tahu dia telah kembali?” bisiknya padaku. “Kau bicara apa sih! Sudahlah, aku datang ke sini dengan Ken”. Jawabku. “Hai gadis-gadis cantik:O ini minumannya tuan Putrii.” Kata Ken sembari menyodorkan segelas air minum. “Ehmm.. kalian itu bikin iri saja!” kata Zerlin. “Hei, kenapa kau tidak datang bersama Renno?” Tanya Ken. “Yak kau tahulah, Renno selalu telat. Dia bilang padaku akan datang 3 menit lagi tapi sampai 10 menit dia tidak juga muncul-__-” kata Zerlin menjelaskan.
“Hai kawan!! Hai sayang…:D” kataku Renno mengagetkan sembari menyapa kami. “Renno apa kau tidak bisa datang lebih lama lagi??!!” kata Zerlin sedikit kesal. “Maafkan aku, aku harus menjemput Hans dulu. Tolong mengertilah.” Kata Renno menjelaskan. “Hai, maafkan Renno, karena aku dia datang terlambat.” Kata seorang laki-laki di belakang Renno. Renno di sini, dia ada di depanku saat ini. Jantungku, jantungku berdetak tak beraturan. Akhirnya aku melihatnya! Ya, aku melihat Hans di sini, aku melihat seseorang yang telah lama aku rindukan. Aku benar-benar melihatnya! “Ya, Allah tolong jangan berhentikan saat-saat ini. Tolong biarkan aku melihat matanya, yang selalu bersinar ke arahku, tolong biarkan aku melihat senyumnya yang selalu terpancar. Tolong biarkan aku tetap disini mengenalkan dari pertama lagi. Aku tidak bisa melupakannya, aku benar mencintainya. Maafkan aku ya Tuhanku.. aku telah berusaha menghapusnya tapi kau izinkan aku untuk bertemu dengannya” batinku.
“Hai, lama tidak bertemu denganmu..” sapa seseorang dengan lembut. “Hhh. Iya Hans! Lama tidak bertemu! Bagaimana kabarmu? Kau harus selalu baik, oke?!” kataku mengalihkan pikiranku. Aku benar-benar gugup dan tidak tahu harus bagaimana, aku hanya mengeluarkan kata-kata yang tersisa di otakku. Dan berdoa semoga aku tidak salah berbicara. “Aku baik, berkat doamu Gris terimakasih ya. Tapi kau semakin cantik, bukankah begitu?” katanya sembari tersenyum. “Alhamdulilah, hehe, kau ini bisa saja!”. Suasana saat itu sangat asing, aku benar-benar merasa sangat senang bisa bertemu dengan Hans tapi entah kenapa hatiku merasa gelisah. Zerlin yang sibuk berbincang dengan pacarnya Renno, sedangkan Ken sesekali melihat ke arahku. Di samping Ken, terlihat seorang gadis cantik berdiri dengan gaun merahnya. Sesekali aku memperhatikan gadis itu. Dia.. Ara! Ya, aku tidak salah lagi. Itu Ara. Tapi mau apa dia di sini?
“Hans, apa kau datang sendiri?” tanyaku pelan. “Tidak, aku bersama Ara tadi. Itu dia! Hai ra, kemarilah” jawabnya sembari menarik tangan Ara dengan lembut. “Gris, tolong perkenalkan, ini pacarku” lanjutnya lagi.  Seketika badanku terasa lemas, kakiku sepertinya tidak kuat lagi jika harus berdiri. Mataku perlahan berkaca-kaca. Dan saat itulah Ken tahu apa yang harus dia lakukan. Dengan cepat Ken datang dan langsung berdiri tepat di sampingku, dari bawah tangannya perlahan mengenggemgam tanganku.

Aku masih terkejut dan tidak tahu harus berkata apa, dengan senyum manisnya Ara mengulurkan tangannya ke arahku. “Hai, sudah lama sekali kita tidak bertemu Gris!” katanya menjabat tanganku. “Iyaa, hehe. Kau pasti baik-baik sajakan” kataku tegas. Ara juga adalah teman sepermainanku. Tapi Ara telah mengenal Hans setahun lebih lama dari padaku. Aku tidak begitu akrab dengan Ara, ketika itu kami malah seperti orang yang bermusuhan. Aku tahu Ara telah menyukai Hans lebih lama dari aku menyukainya. Aku katakan itu pada Hans tapi kemudian Hans bilang kepadaku bahwa dia tidak suka dengan Ara, dia gadis yang manja dan ke kanak-kanakan. Tapi yang aku lihat sekarang adalah kebalikannya. Dia gadis yang dewasa dan baik. Dia berbeda dari yang aku kenal dulu.
Aku kembali menggenggam tangan Ken kali ini aku memberinya kode bahwa aku tidak kuat untuk tetap di sini. Dan ternyata Ken mengetahui maksudku. “Maaf, apakah kami boleh keluar sebentar?” kata Ken pada Hans dan Ara. Dengan cepat ken menarikku keluar menuju mobilnya. Aku tertawa kecil. “Sudahlah, jangan tunjukkan wajah seperti itu. Tolong jangan bohongi dirimu sendiri” kata Ken. Aku terdiam sejenak, pikiranku melayang jauh, aku masih berusaha menutupi perasaanku lagi. Tapi air mataku terlanjur jatuh, dan aku menangis kecil. “Tenanglah, aku di sini” kata Ken sembari menyenderkan kepalaku di bahunya. Aku benar-benar tidak bisa menahan ini, aku telah berusaha tapi tetap saja aku tidak bisa! “Menangislah sepuasmu malam ini di sini di bahuku. Tapi berjanjilah padaku ini yang terakhir. Sebaiknya kita pulang, mereka tidak boleh melihatmu seperti ini” lanjutnya. 
****

Desember 06, 2012

Tahu Diri (Part 3)


Seperti biasanya aku melakukan rutinitasku setiap hari. Kali ini aku pergi ke taman di belakang sekolah. “Hai! Apa yang sedang kau lakukan sendirian di sini?” Tanya seorang lelaki. “Hai, Ken! Kemarilah aku ingin menunjukkan sesuatu kepadamu!” jawabku mengajak. Kemudian dia duduk disebelahku sembari melihat apa yang akan aku tunjukkan. “Hmm.. bagaimana menurutmu? 


 Aku sudah lama memperhatikan taman ini dan aku tertarik untuk melukisnya, hehe” jawabku menunjukkan lukisanku sembari tertawa kecil. “Sudah ku duga! Lukisanmu sangat… Gris! Lukisanmu sangat jelek! Hahaha” jawabnya lalu lari menggodaku. Ken adalah salah satu sahabatku yang sangat dekat, kami seperti orang yang sedang berpacaran tapi itu menurut teman-temanku yang lain. Aku lebih menganggapnya sebagai kakakku, dia selalu melindungi aku dan memperhatikan kondisiku. Dia juga lebih tua 6 bulan dariku. Sempat beredar kabar bahwa Ken menyukaiku lebih dari sekedar sahabat, tapi aku menghiraukannya. “Kau! Berhenti di sana!!” kataku masih mengejarnya. “Haha, aku tidak mau, aku tidak mau! Coba saja kejar aku!:p” jawabnya meledek. “Kau ini!! Awas kau yah! Aduh, sakit!……..” lirihku. “Hei, apa kau tahu, aku tahu kau bercanda” jawab Ken dari kejauhan. Kakiku terkilir dan aku tidak dapat menggerakkannya. Aku berpikir Ken akan pergi karena dia mengira aku bercanda. “Gris, apa kau tidak apa-apa?” kata seseorang dari belakang. “Ken! Aku kira kau sudah pergi. Kakiku…” jawabku. “Naiklah, aku akan menggendongmu! Cepat!” kata Ken sambil menundukkan badannya. “Baiklah, tolong jangan meledekku karena aku sedikit berat” jawabku mengingatkan. “Kau ini! haha” jawab Ken dengan lembut. Kakiku benar-benar sakit saat itu aku hampir menangis namun aku menahan itu. Ken mengenalku sebagai gadis yang kuat. Dia tidak pernah melihatku menangis sekalipun. “Gris,, kau jangan tidur ya! haha” katanya meledek. “Kau ini! Awasnya, aku belum sempat memukulmu!” jawabku sembari mencubit pipi kanannya. Ken hanya tertawa kecil dan mengusap kepalaku sembari berkata kecil “Manis, manis..” setidaknya itu yang aku dengar. Di tengah perjalanan menuju UKS seseorang dari kejauhan seperti memperhatikanku. Aku berhenti, sepertinya itu teman Ken. “Deg.. Deg…” “Ken! Nanti kita ada pertandingan baseball, aku tunggu kau di ruangan kita oke!” kata lelaki itu. “Ya aku benar itu teman Ken! Tapi, kenapa.. kenapa jantungku berdetak dengan cepat. Orang itu.. dia. Dia yang aku tabrak waktu itu” kataku mengingat. Setelah beberapa saat, kami sampai di UKS dan Ken segera memeriksa kakiku. “Ken.. boleh aku bertanya?” kataku gugup. “Tentu saja, apa yang ingin kau tahu?” katanya sembari tersenyum ke arahku. “Laki-laki tadi… dia itu siapa ya? Kenapa aku baru melihatnya?” lanjutku. “Maksudmu Hans? Ya, dia seangkatan dengan kita bukankah dulu kau sekelas dengannya? Bahkan dulu kalian sangat dekat. Saat di kelas XI dia memutuskan untuk privat. Jadi guru akan datang ke rumahnya, dia harus menjaga Ibunya yang tidak bisa ditinggal begitu saja  maka dari itu sekolah menyarankan system itu dia tetap di rumah dan guru mengajarkannya di rumah. Homescooling! Itu maksudku” katanya menjelaskan. “Hans?” jawabku kaget. Bahkan dia tidak pernah mengatakan itu kepadaku. Apa yang terjadi pada Ibunya? Sejak awal kami bertemu, ketika tidak sengaja aku menabraknya. Saat itu jantungku berdetak cepat dan itu memang hanya terjadi ketika aku berada dekat dengannya. Tapi kenapa aku bisa tidak mengenalinya? Ataukah ini karena aku benar-benar tidak bertemu dengannya, dan saat itu aku berpikir dia menghilang makannya aku memutuskan untuk melupakannya. Tapi…
****