Oktober 31, 2014

Terlalu Mudah


Lewat sebuah pandangan saling bertemu
Lewat sebuah percakapan saling beragu
Terlalu mudah aku terjatuh
Terlalu mudah aku luluh

Terlalu sering kita bertemu
Terlalu sering aku berbisu
Terlalu sering kita menyapa
Terlalu sering aku menata
Takut saling pandang takut saling senyum

Indah memang bila rasa kita sama
Indah memang bila harap kita sama
Senang memang bila tanya itu jawab
Senang memang bila mata itu berbalas

Abaikan tatapan menyergap
Abaikan senyum menyentuh
Terlalu sering aku tergagap
Terlalu sering aku terenyuh

Hentikan aliran itu jangan biarkan ia meluruh
Hentikan debar itu jangan biarkan ia menggema
Genggamlah hanya satu nama jangan biarkan ia melepas
Genggamlah hanya satu hati jangan biarkan melenyap

Tak ingin lagi terlalu mudah jatuh
Terlalu mudah jatuh terlalu mudah terluka

Oktober 24, 2014

Kita Bersama


Bersama…
Aku akan tersenyum penuh warna
Aku akan melaju penuh tuju
Aku akan melabuh penuh luluh
Aku akan menggapai penuh lihai

Kita…
Seperti tanah dan tanaman
Seperti api dan asap
Seperti nada dan rima
Seperti kutub negatif dan positif
Berarti, berkesinambungan

Bersama…
Aku lewati jalan berduri
Aku hindari tempat yang ngeri
Aku halaui cemooh tak berarti
Aku hadapi hidup yang menanti

Kita…
Seperti jemari yang saling bertautan
Seperti pelukan yang saling menghantarkan
Seperti ayah dan ibu
Seperti aku dan kamu
Berikatan, berpegangan

Kita bersama walau tak berdekatan
Kita bersama walau tak berpandangan
Saling menggenggam meski tak tersiratkan
Saling mengingat meski tak terlupakan 

Note: Dedicated for All of my bestfriends:*

Cowo Angkot


Terbatas salam tak dikenal
Terketuk sentuh tak biasa
Terkapar nyata di depan mata
Tersudut senyum kian datar

Tanpa menatap, melihat
Tanpa memanggil, menyapa
Tanpa menjabat, menyalam
Tanpa menoleh, mengulum

Angkot menjadi tempatnya
Pertemuan tak terduga yang menduga-duga
Tak ada perkataan yang terdengar
Hanya bahasa tubuh tak terlihat yang melihat-lihat

Bangku terpojokyang terpojokkan
Berhimpit tepi yang tersepikan
Bergundah gerak yang terbataskan
Bersisian tak saling lirik
Bersentuhan tak saling peduli

Dasar cowo angkot!
Seenak jidat menghabiskan oksigenku
Berdekatan bukanlah kebiasaanku
Tak peduli rona merah diwajahku
Tak peduli dia mendengar raungan hatiku
Meneriaki ‘pergilah dari dekatku secepatnya!!’

Dasar cowo angkot!
Seabrek apa galon wewangian yang kau tuangkan kebajumu
Menyeruak indra penciumanku
Membuatku harus menutupnya
Membuang jauh-jauh wajahku yang hanya akan berjarak 20 centi saja

Ugh dasar cowo angkot
Hampir saja aku jatuh
Beruntung kau pergi duluan
Bersama tas punggungmu yang semakin menjauh

Apa aka nada pertemuan selanjutnya?
Antara tak rela dan lega…HEI!!aku ini kenapa??!!

Bukan Salah Perasaan


Social media membludak
Seperti hati yang tergelak
Layanan chating meluas
Seperti senyum yang terulas

Awal perkenalanku di bulan yang lalu
Kemudian hari-hari semakin cerah
Ketika dia untuk kesekian kalinya menyapaku
Kalaupun dengan kata-kata sederhana
Mampu buatku berwarna

Dia disana, di negeri nan jauh dari pandangan
Tak puas profil menegaskan wajahnya
Dia disana, ditemani entah dan sedang bagaimana
Tak cukup pendeskrisian keadaannya
Tapi kebaikan perjelasan dari katanya terbukti

Mengawali obrolan sederhana
Antara dua orang asing
Sampai waktu menyadarkan
Hangatnya hati yang dibatasi samudera

Sampai aku merindukan
Merindu sapaan, kata juga hadirnya
Walau hanya lewat layar yang tiap tengah malam kubuka
Hanya untuk mengecek apa kau ada

Sudah lama kita tak bertegur sapa
Tak saling bicara
Bagai orang asing yang kembali asing

Bukan salah perasaan jika aku rindu
Bukan salah perasaan jika aku sendu
Bukan salah perasaan jika aku ragu
Ini cinta atau cinta
Kusendiri tak tahu
Dia yang di sana mungkin tak mau tahu

Bukan salah perasaan ketika hati memilih
Bukan salah perasaan ketika ini fiksi
Bukan salah perasaan ketika aku menanti

Menanti teman semu yang berarti
Merindu notification yang berbunyi
Menyimpan ruang yang tersembunyi, untuknya.

Note: Dedicated for Sabrina Rosyada({})

Rindu Tak Sampai


Aku bergerak ke kanan lalu ke kiri
Aku melihat ke depan lalu ke belakang
Aku berjalan ke samping lalu berbalik lagi
Aku berdiri lalu duduk kembali

Tahu aku sedang apa?
M e r i n d u k a n

Gelisah, uring-uringan
Ini lebih tak mengenakan daripada ketika kamu sedang menunggu orang
Hubungi tidak. Hubungi tidak. Hubungi tidak
Mungkinkah akan mengganggu
Atau hanya akan diread saja
Huft.

Aku tak sanggup
Menahan rindu yang tak pernah sampai
Menahan kata yang tak pernah terucap
Menahan airmata untuk sebuah pelukan

Aku tak kuat
Menerima bahwa mereka tak tahu
Menerima bahwa mereka tak peduli
Menerima bahwa mereka tak merasa

Aku terdiam
Mencerna otakku untuk kembali merasakan hangatnya matahari yang seharusnya membuatku semangat
Tapi belum kudapat karena rindu ini
Hanya aku dan orang-orang seperti aku yang tahu rasanya

Tak mampu berbicara
Tak mampu bertegur sapa
Hanya menunggu pelukan nyata
Airmata tak terbaca
Tiba-tiba telah terseka
Suasana hati kian mendera

Tak ingin mengumbar kata
Hanya sebuah doa yang kubaca
Tak ingin janji semata
Hanya sebuah senyuman mata

Astagfirullohalazdim…
Tenggelamkan saja diriku
Bunuh rinduku
Biar saja mereka tak mengerti
Rindu tak sampai ke relung hati

Oktober 06, 2014

Dari Penggenggam

Duduk diantara ramainya suara
Kursi ketiga dari depan, pojok kanan
Mengfokuskan pandangan tepat pada layar
Tapi suara-suara itu makin menjadi

Kualihkan pandangan pada buku dalam pangkuan
Membaca materi kuliah profesi keguruan
Alih-alih membaca aku malah terjun bebas ke dalam pikiranku
Wajah yang tak asing lagi, seperti biasanya keluar dari alam sadarku
Senyum yang selalu kulihat dari jauh
Tawa yang menggema tepat di samping telingaku
Juga mata yang menyipit kala kita cekikikkan

Aneh. Ini aneh.
Hanya dengan mengingat setiap detik aku melihatnya
Bisa langsung membangunkan malasku
Menggemparkan pikiran dan kesadaranku
Benar. Aku tak salah.
Menjadikanmu salah satu dari segelintar orang-orang yang memotivasiku
Walau kaupun tak tahu sudah menyinariku

Sekarang. Saat ini.
Dimana kamu, wahai penggenggam pikiran
Sedang apa kamu, wahai penggenggam hati
Bersama siapa kamu, wahai penggenggam cinta dan cita-cita
Ah…! Beruntung aku yang menikmati kehadiranmu
Yang tak kasat mata
Hanya tergambar jelas di sebuah nama
Bernama kenangan

Terima kasih kepadamu
Yang tak henti-hentinya mencetuskan segenggam alasan juga motivasi
Berjauhan takkan jadi penghalang
Karena kau selalu dihati.

Oktober 01, 2014

Semangat Baru

Teringat percakapan tadi malam
Saat dia dengan formalnya mengajukan ikatan
Dan aku yang tak akan menolak

Pagi yang cerah untuk semangat baru
Beban di pundak terasa lebih ringan
Senyum mengembang disepanjang perjalanan
Aku memiliki semangat baru...

Tak sia-sia aku menengadahkan tangan
Meminta pertolongan Tuhan
Sampai Dia memberi aku, kamu...

Kutemukan kenyamanan
Kerasakan ketenangan
Karena kita bersama-sama berpegangan tangan

Berbagilah keluh kesah wahai sahabat
Berbagilah lagu baru wahai sahabat
Berbagilah kisah senang dan sedihmu
Mari bersama kita berbagi

Akhirnya kutemukan alasan mengapa senyumku secerah matahari pagi
Akhirnya ketemukan alasan mengapa langkahku lebar-lebar
Akhirnya kutemukan alasan aku memiliki motivasi baru
Mari kita mulai hari ini, esok dan seterusnya dengan semangat baru
Mari kita mulai hari ini, esok dan seterusnya dengan genggaman malu
Mari kita mulai hari ini, esok dan seterusnya dengan rengkuhan haru

Tertulis 30 September 2014