Februari 02, 2016

Kepada Angin

Wanita itu ada di bawah pohon besar
Sambil memandang hamparan rumput hijau
Mengingat masa kecil yang tak pernah kesepian
Namun hari ini duduk sendirian-dia kesepian.

Kepada angin wanita ini ingin bercerita
Tentang pria yang ada dalam kata
Yang mengambil alih seluruh rasa
Juga ada dalam doa
Yang disebut seindah nada
Bagaimana harus berkata
Kalau lagi harapan telah sirna-dia telah pergi,
Semua berakhir tanpa suara
Dan pergi tanpa merasa
Pria itu membawa hati sang Wanita
Bagaiman mau berkata
Menoleh saja terasa sia-sia
Karena si pria sudah di sana
Jauh sekali rasanya

Lalu hari-hari jadi tak berwarna
Semakin jadi ketika tak ada tempat bercerita
Lalu wanita ini pergi untuk waktu yang lama
Menyembuhkan luka di dalam dada
Atau mencari bahagia di dalam jiwa

Sampai,
Wanita ini kembali dengan cerita
Habis sudah episode tanpa tawa
Karena kaki sudah mampu membawa raga
Karena hati sudah rapi ditata
Karena kesakitannya adalah awal bahagia

Dan,
Kepada angin wanita ini ingin bercerita
Tentang seseorang yang dekat di mata
Yang akhir-akhir ini dating tanpa kata
Meninggalkan senyum yang lama tiada
Bagaiaman harus berkata
Menatap saja tidak kuasa
Malah diam-diam tertawa
Kelakuannya sungguh luar biasa
Mungkin sudah lama tak jumpa
Dengan seorang seperti dia
Mengambil alih seluruh dunia
Yang semakin sulit wanita ini tata
Bagaimana mau berkata
Mulut saja sulit bersuara
Malah bunyi gedebum debaran dada

Kepada pria di ujung sana 

September 23, 2015

Dalam Diamku

Apalagi yang kuharapkan? Apa lagi yang kucita-citakan?
Ketika diawal cerita aku terlanjur menutup hati, menyimpannya dalam-dalam untuk seseorang yang kan menjadi satu-satunya. Dengan menghindari berbagai senyuman yang menyambutku hangat, menjauhi setiap yang bergerak mendekat. Aku memilih menjaga kesemuanya itu untuk seseorang yang telah merebut perhatianku, mencuri pandangku dan membawa hatiku.
Seseorang yang baru saja kembali untuk memberiku senyuman itu lagi, senyuman pertama seperti yang ditunjukannya dulu, yang membuat seluruh oksigen di sekitarku seakan habis. Senyuman yang dulu kukira adalah untukku, ternyata aku salah karena saat ini senyuman itu tertuju untuk sahabatku, disebelahku.
Aku tersenyum getir. Tak bisakah dia tak menunjukkannya langsung di depanku? Setidaknya biarkan aku menutup mata, telinga dan pikiranku dari segala kemungkinan yang akan terjadi setelah lima tahun berlalu. Biarkan aku menganggap bahwa dia kembali untukku.
Dalam diamku, aku memperhatikannya yang telah lama jauh dari pandangku. Memperhatikan bagaimana matanya yang lembut menatap sahabatku. Kemudian menoleh dan pura-pura sibuk ketika mata tak sengaja bertatap. Dalam diamku, bibirku melengkung menciptakan sebuah senyum hanya untuknya yang sedang menciptakan tawa untuk sahabatku. Ya Tuhanku, bagaimana bisa aku merasakan perasaan senang dan sedih dalam satu waktu.
Dan malam itu seperti malam-malam biasanya, malam dimana pengantaran airmata pada Tuhan. Malam pengaduan rasa yang tak berkesudahan, yang akhirnya membawaku berteriak dalam hati meminta ketangguhan diri karena rasa seperti tak mampu lagi, menekan perasaan atau menyimpan dalam hati. Dalam kesedihan yang tak dianjurkan ini, aku bersimpuh berlinang airmata. Bisakah aku tak mengerti dan tak mau tahu tentang apa-apa yang membawaku pada perasaan ini?
Dalam diamku, biarkan aku berusaha mengambil hatiku kembali, mencintai sendirian sungguh tak apa karena Tuhan telah siapkan janji-janji indah suatu hari nanti. Kalaupun tak begitu dalam diamku, biarkan Tuhan menggantikan hatiku dengan yang baru yang membuatku berucap rasa syukur tak henti, yang membuat jatuhnya airmataku disepertiga malam terbayar tunai dengan senyum dan tawa bahagia yang diciptakan pemilik hatiku yang baru.
Dalam diamku, biarkan aku terus perbaiki tutur kataku, menyiapkan diri untuk seseorang yang menjadi takdirku. Tak lagi curi-curi pandang kepada yang bukan halalku, tak lagi menghancurkan hatiku. Lalu biarkan aku hanya menyebut namanya yang aku cintai dalam diamku disetiap malam-malamku bersujud pada Tuhanku. Menunggu takdir membawaku kepada seseorang yang Tuhan siapkan hanya untukku.
01 Agustus 2015

Agustus 20, 2015

Di Ujung Senjaku




Di ujung senjaku, aku melihatmu

Berhadapan dengan matahari
Tak jauh di depanku
Kuingin gapai, ingin ku raih
Tapi kakiku dibekukan oleh sunyi, dicengkram oleh hening

Jadi selama ini aku benar
Kau tak jauh dari hembusan nafasku
Tak cukup jauh dari kabutnya pandangku
Tapi Allah swt tak biarkan aku terlarut senang dulu
Tak biarkan aku menengok sekilas wajahmu

Mungkin belum tepat waktu yang direncanakan-Nya
Jadi biarkan aku melihat senjaku
Menikmati penghujung senja bersamamu yang entah siapa entah dimana
Jadi cepat temukan aku
Di ujung senjaku

Mei 17, 2015

Sakit, sekarang

Aku ingin tak mengenal kata sedih, tapi apa daya?
Hatiku sedih kali ini, entah apa.

Aku tahu awan mendung menutup bintang malam itu
Aku tahu hujan turun saat itu
Pun juga aroma petrichor yang masih pekat

Jikapun ini tentang yang tidak boleh menyalahkan perasaan
maka biarkan aku menyalahkan diriku
membiarkannya bertindak tanpa tau akhir tak terduga
mengijinkannya menetap dalam-dalam
Jikapun ini tentang menunggu takdir
rasa-rasanya tak ingin ku cepat-cepat dihinggapi,
diselimuti perasaan tak menentu-tak terkenal-menjadi satu
maka biarlah aku terus menjadi bayangannya,
dan tak mengerti apapun,
tak memahami apapun, juga tak menyadari apapun

Inginku tak merasakan agar tak menyakitkan
Namun apa dayaku, jika hati berkata

Inginku waktu berteleportasi
menghadirkan si penggenggam hati yang menetap yakin
tuk menggenggam hatiku dan tak ingin lepas
agar aku melewati kesakitan hati
Inginku tak berperasaan, mengganggap semuanya khayalan
sebelum yang sungguh-sungguh datang
agar hatiku hanya menjadi satu

Namun apa dayaku, ketika takdir menjawab
Bahwa hatiku telah menghilang
Dibawa dalam kepalan tangan
Semakin dikepal semakin sakit

Lalu, ya Allah. . .
Bisakah kau hentikan saja perasaan itu
Biarlah aku tak memikirkan