November 23, 2014

Melangkah

#Bagian Satu

Aku terpekur duduk sendirian
Dibawah hamparan langit tanpa bintang
Tak memandang hanya menerawang
Dalam kesunyian gelap malam

Menyukainya saja sudah salah
Bagaimana mau berharap kalau dia membalas
Menerima salam perkenalannya saja sudah bersyukur
Bagaimana mau berandai kalau dia hanya untukku
Seharusnya aku tahu itu

Aku tak bisa menyalahkan perasaan
Yang kubisa lakukan hanya menegur hati
Berhentilah berdebar untuknya
Berhentilah memanggil namanya

Apa tidak puas sakit yang hati terima
Yang bisa kulakukan hanya menutup perasaan
Berhentilah mengharapkannya
Berhentilah merindukannya

Senyum itu terlihat manis, tapi bukan untukku
Tatapan itu terlihat teduh, tapi bukan untukku
Katakan, bagaimana bisa ia mengabaikan hatiku?
Katakan, bagaimana bisa ia lantarkan perasaanku?

Dimana tempat agar aku bisa melupakan
Kemana kaki agar aku bisa meninggalkan
Kosongkan hatiku, maka tutup lukanya
Kosongkan hatiku, maka antar penggantinya

Biar kau pergi lalu aku mengikhlaskan
Biar kau bahagia lalu aku membahagiakan

Note: 31 Oktober 2014

Tahu Diri


Lewat sebuah ruang
Kita mengenal satu sama lain
Lewat sebuah komunikasi
Kita mengerti satu sama lain
Lewat sebuah  keakraban
Kita mengikat satu sama lain

Bagai bumi dan langit
Kita berbeda satu sama lain
Bagai bunga dan kupu-kupu
Kita membutuhkan satu sama lain
Sampai butir-butir itu tergelincir
Sampai bulir-bulir itu berjatuhan
Sampai debar-debar itu terdengar

Beruntungnya aku tahu diri
Menyimpan dalam-dalam, menyekap rapat-rapat
Beruntungnya aku tahu diri
Tersenyum kecil-kecil, menangis sunyi-sunyi
Beruntungnya aku tahu diri
Mencintai diam-diam, mencintai sendirian
Beruntungnya aku tahu diri
Meringis kebaretan, terluka lebar-lebar

Seperti bayangan
Kau tak akan bisa kusentuh
Seperti air
Kau tak akan bisa ku genggam
Seperti bintang
Kau tak akan bisa ku gapai
Hanya seperti angin yang selalu bisa kurasakan
Hanya seperti awan yang selalu bisa kuperhatikan

Tanpa kau rasakan balik
Tanpa kau perhatikan juga

November 14, 2014

Cinta Yang Tak Mungkin


Sudah hampir tiga bulan aku
Duduk bersepi diantara ramainya suara
Duduk beramai diantara sepinya suara
Menatap dekat diam-diam

Sudah hampir sebulan lagi
Sekolah kita usai
Sudah hampir seminggu lagi
Kebiasaan ini berakhir

Namun akhir-akhir ini baru kuberanikan
Tampakkan aku yang terlalu biasa
Mengagumi tanpa balas dikagumi
Tampakkan aku yang terlalu tak biasa
Bermejakan sama dengan si pembawa hati

Menggetarkan seluruh pertahanan diri
Membuyarkan seluruh lamunan sepi
Merekahkan seluruh senyum tersembunyi
Membekukan seluruh aliran darah

Indah senyumnya semakin indah di hatiku
Kian menggelitik menarik ujung bibirku
Meski kusadari cinta tak mungkin jadi
Meski takkan mungkin kudapati
Takkan ku berpaling pergi

Biar apa yang kau citakan
Biar kuberjuang dapatkan
Meski kusadari cinta tak mungkin jadi
Meski takkan mungki kudapati
Takkan ku berlalu lari

Kuperlahan berjalan pasti
Kau perlahan berlalu pergi
Sampai bahagia telah ditemui
Sampai situlah semuanya selesai
Karena cinta tak mungkin jadi

November 06, 2014

Bukan Cinta


Kebekuan ini meradang
Menjadi satu kesakitan tanpa rasa
Kebekuan ini meruang
Menjadi satu kesakitan tanpa nama
Kosong, tak ada tempat

Mengingat juga tak ada gunanya
Aku disini dan kau disana
Tak pernah bertemu apalagi menyatu
Melupakan juga tak ada gunanya
Aku lupa dan kau datang lagi
Tak pernah bertatap apalagi menatap

Sampai, ruang kosong itu terbuka
Bagai pintu tua yang lusuh
Sedikit demi sedikit tempat itu berada
Sampai, hati kian mencair

Aku tak mengerti apa yang tidak aku mengerti
Kegeeran semata atau kami saling memata
Bukan cinta. Bukan cinta. Bukan cinta
Aku terus menerus merapalkan kalimat itu
Memikirkannya saja sudah membuat perasaan terombang ambing
Bagaimana memiliki……

Tersenyum manis melihatnya
Tergugup-gugup mendekatnya
Bukan cinta. Bukan cinta. Bukan cinta

Gara-gara ruang kosong
Aku mudah terlalu mengharap
Gara-gara pesan potong
Aku mudah terlalu menghangat

Penyangkalan ini semakin menenggelamkan
Penolakkan ini semakin menguburkan
Bukan cinta. Bukan cinta. Bukan cinta
Pertahanan ini semakin menggebu
Pertahanan ini semakin memacu

Biarlah kosong ini mengisi
Biarlah ruang ini membuka
Biarlah hati ini menetap
Biarlah rasa ini mengerti

Note: Dedicated for Alya Ayuni N.A

Sahabatku


Sahabatku,
Tiada hati yang menjerit kesakitan
Daripada kau acuhkan aku seharian
Daripada kau hiraukan aku sendirian
Daripada kau rasani aku sesepian

Risau gelisah yang tertanam ini
Memuncak sepuncak-puncaknya
Takut kekhawatiran yang terbenam ini
Mengalir sengalir-ngalirnya
Cemas kekalutan terpendam ini
Merambat serambat-rambatnya

Sahabatku,
Kita kan selalu bersama tanpa berdekatan
Kita kan selalu beramah tanpa berteguran
Kita kan selalu bergurau tanpa bertemuan
Kita kan selalu bersatu tanpa berikatan

Merindukanmu tak tersalurkan
Mengenangmu tak terindahkan
Menyayangimu tak terbayangkan

Sahabatku,
Kita diam dan mendiamkan…ya?
Kita rindu dan merindukan…ya?
Tak terucap tak tersalur
Tak terdengar tak terlihat

Ada apa? Kenapa….
Memilih memendam debuan rindu daripada mengirim pesan singkat
Memilih mendiam kata seribu daripada menyapa telepon genggam
Memilih pura-pura tak melihat daripada memberitahu kau ada
Memilih menyembunyikan daripada mencetus hilang ketakutan

Tiada keperihan luka daripada hati yang diabaikan, sahabat sendiri
Orang kepercayaan, selain keluarga
Tiada kerapuhan tulang daripada hati yang diinjakkan
Orang yang selalu bersama, menemani
Tiada kegamangan pandang daripada hati yang dikoyakkan

Sahabatku,
Kau adalah darah dalam tubuh