Desember 14, 2014

Menunggu Takdir

Tapi aku melihatnya
Sebuah pandangan penuh makna
Sebuah ucapan penuh tanya
Sebuah rangkaian penuh rasa

Pandangan biasa tak seperti itu
Ucapan sederhana tak seperti itu
Rangkaian rasa telah kuterima
Namun masih sebuah rangkaian

Apa pandangan itu akan terus sama?
Menatap penuh makna tersimpan
Merasa penuh raga terdalam
Memanggil penuh rasa terhangat

Apa suara itu akan terus sama?
Mengucap dengan kalbu
Mengata dengan ragu
Menjawab dengan kelu

Aku memang tak merasa getaran dekat
Aku memang tak tahu perasaan melekat
Sejak pertama kali menatap
Sejak pertama kali melesat

Perasaan tak bernama
Perasaan tak berasa

Akhirnya, waktu aka terus tidak peduli
Berputar sesuka hati tanpa menggali
Perasaan dua orang saling menyadari
Perasaan dua orang yang jauh terlampaui

Biar aku putuskan untuk menunggu
Menunggu takdir menjawab
Menunggu dua orang saling menganggap
Perasaan luar biasa yang tergagap

Biar aku putuskan untuk menunggu
Menunggu datangnya ajaib sang Kuasa
Menunggu langkah kaki yang menggema
Menuju satu hati yang telah lama

Aku menunggu takdir
Menunggu takdir membawamu
Menunggu takdir membawaku
Menunggu takdir membawa kita

Seperti menunggu hujan di bulan desember
Seperti menunggu matahari di ufuk timur
Yang pada akhirnya
Terdengarlah kata syukur

Note: Thank you viewers. Thankyou my friends who always support me to do what I want do. Sabrina, Alya, Irma, Cemewew. Thank you for someone who always be my inspiration. And Allah SWT. Please Enjoy my blog! :-)

Bagaimana Tidak Aku berharap

Bagaimana tidak aku berharap
Ketika doa seakan terdengar

Bagai sebuah tetesan hujan
Yang jatuh beraturan
Menyalami ribuan pepohonan
Bagai sebuah dentuman petir
Yang gema bersahutan
Menyapa luasan perlangitan

Bagaimana tidak aku berharap
Ketika sapaan itu nyata

Sampai membisukan kata
Lalu denyut menggetarkan raga
Padahal tak sering berkata
Padahal tak sering menyapa
Sampai menghabiskan udara
Lalu pandang memburamkan mata
Padahal tak sering berada
Padahal tak sering merasa

Tapi bagaimana tidak aku berharap
Ketika mataku melihat
Ketika hatiku merasa
Sebuah senyuman bagai lukisan mahakarya
Sebuah aura bagai pelukan maharasa
Teruntuk untukku,
Tokoh utama yang selalu berharap

Menahan segala sorakan sepi
Gundah gulana merapat hati
Menunggu cairnya kebekuan waktu
Menunggu nyatunya kejadian satu
Peristiwa bernamakan takdir

Sat(o)urday

Kau pernah merasa
Sejuknya udara pagi ketika membuka jendela
Indahnya suara kicau burung-burung
Luasnya hamparan langin nan biru

Tapi tak pernah kurasa
Sejuknya senyuman itu ketika kita saling tersenyum
Indahnya suara itu ketika kita saling menyapa
Luasnya perasaan apa dan untuk siapa

Kau pernah merasa
Matahari selalu nampak cantik dipagi hari
Hijaunya pohon selalu nampak nyaman
Dinginnya udara kuatan raga

Tapi tak pernah kurasa
Kehadiran nyata, rasa itu ada
Kepekaan masa, rasa itu datang
Kebisuan kata, rasa itu luar biasa

Aku pernah merasa
Kita pemilik rasa yang sama
Kita pengharap rasa yang nyata
Tapi tidak ketika negatif berkata
Pada waktunya kau datang dengan si dia
Pada waktunya aku memilih bahagia

Karena kita tak pernah saling bertemu
Karena kita tak pernah saling berbicara
Karena kita hanya memandang tanpa sadar
Dan berpaling, sembunyikan senyum diam-diam

Tapi…
Rasanya taka pa aku menunggu
Sebuah senyuman dan suara memanggil
Rasanya taka pa aku menunggu
Sebuah peristiwa pasti, ternyata takdir 

Note: Lama gak ketemu laptop, jadi geregetan sendiri mau post banyak tulisan. Dengan inspirator berbeda di setiap kata. Enjoy!:-)

Melangkah

#Bagian Tiga

Adanya lampu padam
Aku jadi sadar,
Bahwa bulan tidak seterang surya

Adanya lampu pada
Aku jadi sadar,
Bahwa bintang tidak sedikit

Adanya lampu pada
Aku jadi sadar,
Bahwa malam tidak segelap hitam

Adanya lampu padam
Aku jadi sadar,
Bahwa langit malam begit  indah

Bagaimana aku jelaskan
Kalimat yang sering kusebutkan dengan kokohnya
Namun selalu hanya untaian pada akhirnya

Takkan kubiarkan kalimat itu keluar lagi
Takkan kubiarkan hati ini terenyuh lagi
Bahwa sudah jelas keadaan
Bahwa sudah jelas kenyataan

Biar hati yang berucap
Biar hati yang tahu
Jika aku ingin bersungguh
Jika aku ingin benar-benar

Bukan lagi 10 langkah di belakangnya
Namun 100 langkah di depannya

Biar sang Maha yang berkuasa
Biar sang Maha yang terbiasa
Jika aku ingin berharap
Jika aku ingin diharap

Kututupi saja perasaan ini
Kubentengi saja hati ini
Sampai waktu itu datang
Sampai waktu itu tiba

Seperti indahnya senyuman seorang ibu
Aku kan tersenyum menyambut
Seperti hangatnya pelukan seorang ayah
Aku kan menghambur hangat

Biarku jaga hati ini
Biarku simpan senyum ini

Untuk seseorang yang tak ku ketahui
Untuk seseorang yang ku mengabdi

Note: 27 November 2014

Melangkah

#Bagian Dua

Masih memandang langit tanpa bintang
Masih ditemani dingin tanpa kopi
Masih tak tersentuh dan tak menyentuh

Mencintai itu bahagia,
Tapi kenapa tak terjadi ketika mencintaimu?

Memang takdir bukan milik kita
Memang cinta bukan untuk kita

Tak semudah menghapus coretan pensil
Perasaan ini telah mengakar layaknya pohon beringin
Bagaimana perasaan bisa sebegininya
Mencintai dalam-dalam membenci tiba-tiba

Melihatmu bersama orang lain
Sakit memang, jika jujur
Aku memberi padamu dank au memberi padanya
Bagaimana perasaan bisa sebegininya

Langkah keduaku untuk melupakan
Langkah keduaku untuk menjauhkan
Dengan melihatmu bersama yang lain
Dengan menganggapmu sudah dengan yang lain

Sampai perasaan itu benar-benar terkikis
Sudah seharusnya kau bersama seseorang
Sudah seharusnya ku hentikan laju perasaan

Sampai jumpa di langkah ketiga
Langkah penghabisan antara perasaan
Langkah penghabisan antara kenyataan
Langkah untuk sepuluh langkah jauh

Note: 16 November 2014

November 23, 2014

Melangkah

#Bagian Satu

Aku terpekur duduk sendirian
Dibawah hamparan langit tanpa bintang
Tak memandang hanya menerawang
Dalam kesunyian gelap malam

Menyukainya saja sudah salah
Bagaimana mau berharap kalau dia membalas
Menerima salam perkenalannya saja sudah bersyukur
Bagaimana mau berandai kalau dia hanya untukku
Seharusnya aku tahu itu

Aku tak bisa menyalahkan perasaan
Yang kubisa lakukan hanya menegur hati
Berhentilah berdebar untuknya
Berhentilah memanggil namanya

Apa tidak puas sakit yang hati terima
Yang bisa kulakukan hanya menutup perasaan
Berhentilah mengharapkannya
Berhentilah merindukannya

Senyum itu terlihat manis, tapi bukan untukku
Tatapan itu terlihat teduh, tapi bukan untukku
Katakan, bagaimana bisa ia mengabaikan hatiku?
Katakan, bagaimana bisa ia lantarkan perasaanku?

Dimana tempat agar aku bisa melupakan
Kemana kaki agar aku bisa meninggalkan
Kosongkan hatiku, maka tutup lukanya
Kosongkan hatiku, maka antar penggantinya

Biar kau pergi lalu aku mengikhlaskan
Biar kau bahagia lalu aku membahagiakan

Note: 31 Oktober 2014

Tahu Diri


Lewat sebuah ruang
Kita mengenal satu sama lain
Lewat sebuah komunikasi
Kita mengerti satu sama lain
Lewat sebuah  keakraban
Kita mengikat satu sama lain

Bagai bumi dan langit
Kita berbeda satu sama lain
Bagai bunga dan kupu-kupu
Kita membutuhkan satu sama lain
Sampai butir-butir itu tergelincir
Sampai bulir-bulir itu berjatuhan
Sampai debar-debar itu terdengar

Beruntungnya aku tahu diri
Menyimpan dalam-dalam, menyekap rapat-rapat
Beruntungnya aku tahu diri
Tersenyum kecil-kecil, menangis sunyi-sunyi
Beruntungnya aku tahu diri
Mencintai diam-diam, mencintai sendirian
Beruntungnya aku tahu diri
Meringis kebaretan, terluka lebar-lebar

Seperti bayangan
Kau tak akan bisa kusentuh
Seperti air
Kau tak akan bisa ku genggam
Seperti bintang
Kau tak akan bisa ku gapai
Hanya seperti angin yang selalu bisa kurasakan
Hanya seperti awan yang selalu bisa kuperhatikan

Tanpa kau rasakan balik
Tanpa kau perhatikan juga

November 14, 2014

Cinta Yang Tak Mungkin


Sudah hampir tiga bulan aku
Duduk bersepi diantara ramainya suara
Duduk beramai diantara sepinya suara
Menatap dekat diam-diam

Sudah hampir sebulan lagi
Sekolah kita usai
Sudah hampir seminggu lagi
Kebiasaan ini berakhir

Namun akhir-akhir ini baru kuberanikan
Tampakkan aku yang terlalu biasa
Mengagumi tanpa balas dikagumi
Tampakkan aku yang terlalu tak biasa
Bermejakan sama dengan si pembawa hati

Menggetarkan seluruh pertahanan diri
Membuyarkan seluruh lamunan sepi
Merekahkan seluruh senyum tersembunyi
Membekukan seluruh aliran darah

Indah senyumnya semakin indah di hatiku
Kian menggelitik menarik ujung bibirku
Meski kusadari cinta tak mungkin jadi
Meski takkan mungkin kudapati
Takkan ku berpaling pergi

Biar apa yang kau citakan
Biar kuberjuang dapatkan
Meski kusadari cinta tak mungkin jadi
Meski takkan mungki kudapati
Takkan ku berlalu lari

Kuperlahan berjalan pasti
Kau perlahan berlalu pergi
Sampai bahagia telah ditemui
Sampai situlah semuanya selesai
Karena cinta tak mungkin jadi

November 06, 2014

Bukan Cinta


Kebekuan ini meradang
Menjadi satu kesakitan tanpa rasa
Kebekuan ini meruang
Menjadi satu kesakitan tanpa nama
Kosong, tak ada tempat

Mengingat juga tak ada gunanya
Aku disini dan kau disana
Tak pernah bertemu apalagi menyatu
Melupakan juga tak ada gunanya
Aku lupa dan kau datang lagi
Tak pernah bertatap apalagi menatap

Sampai, ruang kosong itu terbuka
Bagai pintu tua yang lusuh
Sedikit demi sedikit tempat itu berada
Sampai, hati kian mencair

Aku tak mengerti apa yang tidak aku mengerti
Kegeeran semata atau kami saling memata
Bukan cinta. Bukan cinta. Bukan cinta
Aku terus menerus merapalkan kalimat itu
Memikirkannya saja sudah membuat perasaan terombang ambing
Bagaimana memiliki……

Tersenyum manis melihatnya
Tergugup-gugup mendekatnya
Bukan cinta. Bukan cinta. Bukan cinta

Gara-gara ruang kosong
Aku mudah terlalu mengharap
Gara-gara pesan potong
Aku mudah terlalu menghangat

Penyangkalan ini semakin menenggelamkan
Penolakkan ini semakin menguburkan
Bukan cinta. Bukan cinta. Bukan cinta
Pertahanan ini semakin menggebu
Pertahanan ini semakin memacu

Biarlah kosong ini mengisi
Biarlah ruang ini membuka
Biarlah hati ini menetap
Biarlah rasa ini mengerti

Note: Dedicated for Alya Ayuni N.A

Sahabatku


Sahabatku,
Tiada hati yang menjerit kesakitan
Daripada kau acuhkan aku seharian
Daripada kau hiraukan aku sendirian
Daripada kau rasani aku sesepian

Risau gelisah yang tertanam ini
Memuncak sepuncak-puncaknya
Takut kekhawatiran yang terbenam ini
Mengalir sengalir-ngalirnya
Cemas kekalutan terpendam ini
Merambat serambat-rambatnya

Sahabatku,
Kita kan selalu bersama tanpa berdekatan
Kita kan selalu beramah tanpa berteguran
Kita kan selalu bergurau tanpa bertemuan
Kita kan selalu bersatu tanpa berikatan

Merindukanmu tak tersalurkan
Mengenangmu tak terindahkan
Menyayangimu tak terbayangkan

Sahabatku,
Kita diam dan mendiamkan…ya?
Kita rindu dan merindukan…ya?
Tak terucap tak tersalur
Tak terdengar tak terlihat

Ada apa? Kenapa….
Memilih memendam debuan rindu daripada mengirim pesan singkat
Memilih mendiam kata seribu daripada menyapa telepon genggam
Memilih pura-pura tak melihat daripada memberitahu kau ada
Memilih menyembunyikan daripada mencetus hilang ketakutan

Tiada keperihan luka daripada hati yang diabaikan, sahabat sendiri
Orang kepercayaan, selain keluarga
Tiada kerapuhan tulang daripada hati yang diinjakkan
Orang yang selalu bersama, menemani
Tiada kegamangan pandang daripada hati yang dikoyakkan

Sahabatku,
Kau adalah darah dalam tubuh

Oktober 31, 2014

Terlalu Mudah


Lewat sebuah pandangan saling bertemu
Lewat sebuah percakapan saling beragu
Terlalu mudah aku terjatuh
Terlalu mudah aku luluh

Terlalu sering kita bertemu
Terlalu sering aku berbisu
Terlalu sering kita menyapa
Terlalu sering aku menata
Takut saling pandang takut saling senyum

Indah memang bila rasa kita sama
Indah memang bila harap kita sama
Senang memang bila tanya itu jawab
Senang memang bila mata itu berbalas

Abaikan tatapan menyergap
Abaikan senyum menyentuh
Terlalu sering aku tergagap
Terlalu sering aku terenyuh

Hentikan aliran itu jangan biarkan ia meluruh
Hentikan debar itu jangan biarkan ia menggema
Genggamlah hanya satu nama jangan biarkan ia melepas
Genggamlah hanya satu hati jangan biarkan melenyap

Tak ingin lagi terlalu mudah jatuh
Terlalu mudah jatuh terlalu mudah terluka

Oktober 24, 2014

Kita Bersama


Bersama…
Aku akan tersenyum penuh warna
Aku akan melaju penuh tuju
Aku akan melabuh penuh luluh
Aku akan menggapai penuh lihai

Kita…
Seperti tanah dan tanaman
Seperti api dan asap
Seperti nada dan rima
Seperti kutub negatif dan positif
Berarti, berkesinambungan

Bersama…
Aku lewati jalan berduri
Aku hindari tempat yang ngeri
Aku halaui cemooh tak berarti
Aku hadapi hidup yang menanti

Kita…
Seperti jemari yang saling bertautan
Seperti pelukan yang saling menghantarkan
Seperti ayah dan ibu
Seperti aku dan kamu
Berikatan, berpegangan

Kita bersama walau tak berdekatan
Kita bersama walau tak berpandangan
Saling menggenggam meski tak tersiratkan
Saling mengingat meski tak terlupakan 

Note: Dedicated for All of my bestfriends:*

Cowo Angkot


Terbatas salam tak dikenal
Terketuk sentuh tak biasa
Terkapar nyata di depan mata
Tersudut senyum kian datar

Tanpa menatap, melihat
Tanpa memanggil, menyapa
Tanpa menjabat, menyalam
Tanpa menoleh, mengulum

Angkot menjadi tempatnya
Pertemuan tak terduga yang menduga-duga
Tak ada perkataan yang terdengar
Hanya bahasa tubuh tak terlihat yang melihat-lihat

Bangku terpojokyang terpojokkan
Berhimpit tepi yang tersepikan
Bergundah gerak yang terbataskan
Bersisian tak saling lirik
Bersentuhan tak saling peduli

Dasar cowo angkot!
Seenak jidat menghabiskan oksigenku
Berdekatan bukanlah kebiasaanku
Tak peduli rona merah diwajahku
Tak peduli dia mendengar raungan hatiku
Meneriaki ‘pergilah dari dekatku secepatnya!!’

Dasar cowo angkot!
Seabrek apa galon wewangian yang kau tuangkan kebajumu
Menyeruak indra penciumanku
Membuatku harus menutupnya
Membuang jauh-jauh wajahku yang hanya akan berjarak 20 centi saja

Ugh dasar cowo angkot
Hampir saja aku jatuh
Beruntung kau pergi duluan
Bersama tas punggungmu yang semakin menjauh

Apa aka nada pertemuan selanjutnya?
Antara tak rela dan lega…HEI!!aku ini kenapa??!!

Bukan Salah Perasaan


Social media membludak
Seperti hati yang tergelak
Layanan chating meluas
Seperti senyum yang terulas

Awal perkenalanku di bulan yang lalu
Kemudian hari-hari semakin cerah
Ketika dia untuk kesekian kalinya menyapaku
Kalaupun dengan kata-kata sederhana
Mampu buatku berwarna

Dia disana, di negeri nan jauh dari pandangan
Tak puas profil menegaskan wajahnya
Dia disana, ditemani entah dan sedang bagaimana
Tak cukup pendeskrisian keadaannya
Tapi kebaikan perjelasan dari katanya terbukti

Mengawali obrolan sederhana
Antara dua orang asing
Sampai waktu menyadarkan
Hangatnya hati yang dibatasi samudera

Sampai aku merindukan
Merindu sapaan, kata juga hadirnya
Walau hanya lewat layar yang tiap tengah malam kubuka
Hanya untuk mengecek apa kau ada

Sudah lama kita tak bertegur sapa
Tak saling bicara
Bagai orang asing yang kembali asing

Bukan salah perasaan jika aku rindu
Bukan salah perasaan jika aku sendu
Bukan salah perasaan jika aku ragu
Ini cinta atau cinta
Kusendiri tak tahu
Dia yang di sana mungkin tak mau tahu

Bukan salah perasaan ketika hati memilih
Bukan salah perasaan ketika ini fiksi
Bukan salah perasaan ketika aku menanti

Menanti teman semu yang berarti
Merindu notification yang berbunyi
Menyimpan ruang yang tersembunyi, untuknya.

Note: Dedicated for Sabrina Rosyada({})

Rindu Tak Sampai


Aku bergerak ke kanan lalu ke kiri
Aku melihat ke depan lalu ke belakang
Aku berjalan ke samping lalu berbalik lagi
Aku berdiri lalu duduk kembali

Tahu aku sedang apa?
M e r i n d u k a n

Gelisah, uring-uringan
Ini lebih tak mengenakan daripada ketika kamu sedang menunggu orang
Hubungi tidak. Hubungi tidak. Hubungi tidak
Mungkinkah akan mengganggu
Atau hanya akan diread saja
Huft.

Aku tak sanggup
Menahan rindu yang tak pernah sampai
Menahan kata yang tak pernah terucap
Menahan airmata untuk sebuah pelukan

Aku tak kuat
Menerima bahwa mereka tak tahu
Menerima bahwa mereka tak peduli
Menerima bahwa mereka tak merasa

Aku terdiam
Mencerna otakku untuk kembali merasakan hangatnya matahari yang seharusnya membuatku semangat
Tapi belum kudapat karena rindu ini
Hanya aku dan orang-orang seperti aku yang tahu rasanya

Tak mampu berbicara
Tak mampu bertegur sapa
Hanya menunggu pelukan nyata
Airmata tak terbaca
Tiba-tiba telah terseka
Suasana hati kian mendera

Tak ingin mengumbar kata
Hanya sebuah doa yang kubaca
Tak ingin janji semata
Hanya sebuah senyuman mata

Astagfirullohalazdim…
Tenggelamkan saja diriku
Bunuh rinduku
Biar saja mereka tak mengerti
Rindu tak sampai ke relung hati

Oktober 06, 2014

Dari Penggenggam

Duduk diantara ramainya suara
Kursi ketiga dari depan, pojok kanan
Mengfokuskan pandangan tepat pada layar
Tapi suara-suara itu makin menjadi

Kualihkan pandangan pada buku dalam pangkuan
Membaca materi kuliah profesi keguruan
Alih-alih membaca aku malah terjun bebas ke dalam pikiranku
Wajah yang tak asing lagi, seperti biasanya keluar dari alam sadarku
Senyum yang selalu kulihat dari jauh
Tawa yang menggema tepat di samping telingaku
Juga mata yang menyipit kala kita cekikikkan

Aneh. Ini aneh.
Hanya dengan mengingat setiap detik aku melihatnya
Bisa langsung membangunkan malasku
Menggemparkan pikiran dan kesadaranku
Benar. Aku tak salah.
Menjadikanmu salah satu dari segelintar orang-orang yang memotivasiku
Walau kaupun tak tahu sudah menyinariku

Sekarang. Saat ini.
Dimana kamu, wahai penggenggam pikiran
Sedang apa kamu, wahai penggenggam hati
Bersama siapa kamu, wahai penggenggam cinta dan cita-cita
Ah…! Beruntung aku yang menikmati kehadiranmu
Yang tak kasat mata
Hanya tergambar jelas di sebuah nama
Bernama kenangan

Terima kasih kepadamu
Yang tak henti-hentinya mencetuskan segenggam alasan juga motivasi
Berjauhan takkan jadi penghalang
Karena kau selalu dihati.

Oktober 01, 2014

Semangat Baru

Teringat percakapan tadi malam
Saat dia dengan formalnya mengajukan ikatan
Dan aku yang tak akan menolak

Pagi yang cerah untuk semangat baru
Beban di pundak terasa lebih ringan
Senyum mengembang disepanjang perjalanan
Aku memiliki semangat baru...

Tak sia-sia aku menengadahkan tangan
Meminta pertolongan Tuhan
Sampai Dia memberi aku, kamu...

Kutemukan kenyamanan
Kerasakan ketenangan
Karena kita bersama-sama berpegangan tangan

Berbagilah keluh kesah wahai sahabat
Berbagilah lagu baru wahai sahabat
Berbagilah kisah senang dan sedihmu
Mari bersama kita berbagi

Akhirnya kutemukan alasan mengapa senyumku secerah matahari pagi
Akhirnya ketemukan alasan mengapa langkahku lebar-lebar
Akhirnya kutemukan alasan aku memiliki motivasi baru
Mari kita mulai hari ini, esok dan seterusnya dengan semangat baru
Mari kita mulai hari ini, esok dan seterusnya dengan genggaman malu
Mari kita mulai hari ini, esok dan seterusnya dengan rengkuhan haru

Tertulis 30 September 2014

September 30, 2014

Bertanya pada bintang

Bintang.
Namanya kesukaanku
Auranya kehangatanku

Aku bertanya pada bintang ‘apa kita bisa lebih dekat?’
Tapi bintang hanya bergeming
Aku bertanya pada bintang ‘kita terlalu jauh, apa kau akan terus disana?’
Tapi bintang tetap bergeming

Bintang.
Aku menjawab semua pertanyaannya tentang materi aljabar
Aku menjawab semua pertanyaannya tentang reaksi kimia

Aku bertanya pada bintang ‘apa aku bisa memilikimu?’
Tapi bintang tak mengindahkan
Aku bertanya pada bintang ‘apa kau bisa tak berdekatan dengan yang lain? Aku…cemburu’
Tapi bintang masih tak mengindahkan

Bintang.
Aku melihat senyum sempurnanya tapi seketika hilang begitu saja
Aku melihat binar matanya tapi seketika redup begitu saja

Seperti pertanyaan aku pada bintang
Seperti itupun dirinya tak mengindahkan
Seperti harapan aku pada bintang
Seperti itupun dirinya menghempaskan
Seperti kagum aku pada bintang
Seperti itulah aku mengagumimu

Jauh tapi selalu dapat terlihat
Tak terjangakau tapi selalu dapat tersinar

Tak terhitung berapa jumlahnya
Terlalu banyak jenisnya

Aku ingin jadi…bulan
Yang memberi cahaya sinar terang
Yang menemani hinggap hingga fajar
Yang selalu ada disisi…selamanya
Takkan terganti.

September 25, 2014

Motivasiku

Walau jarak telah memisah
Dan kita tak terjangkau
Walau tempat telah berbeda
Dan kita tak saling bertatap muka

Memang tak ada debar menyelutup
Yang ada debar terpendam
Memang tak ada takut dalam kesenangan
Yang ada takut dalam hati

Meski kau anggap aku aneh
Nyatanya ini memang aku

Wajahmu masih jelas dalam ingatanku
Tawamu masih terngiang dalam pendengaranku
Auramu masih sampai menembus lamunanku
Sudah kubilang, bukan?

Keseriusan dan tekad yang kutangkap saat melihat wajahmu diam-diam
Telah menembus pertahanan akan lemahnya diriku
Motivasiku, mengubah tangis menjadi senyumku
Renyah tawa dan lelucon yang sengaja kau tunjukkan
Mampu menyejukkan panasnya hati dan pikiranku
Motivasiku, membuat kekuatan terdalam baruku

Seperti matahari yang terus menerangi dunia
Seperti itulah kau terus menerangkan hati
Seperti sejuknya embun sisa-sisa hujan semalam
Seperti itulah kau terus tentramkan hati

Meski masih kau anggap aku aneh
Biarkan aku menikmati
Tetap menjadikanmu salah satu motivasiku supaya tak runtuh
Sebelum semuanya hilang, dan tinggal kenangan.

p.s : percaya tidak, bertemu denganmu dalam mimpi
membuat hariku seratus kali lebih menyenangkan
Membayangkan betapa menjengkelkannya dirimu kala itu
membuat senyumku berkembang seketika
Memikirkan tanda-tanda dariku yang tak pernah kau sadari
membuatku menggetok kepalaku sendiri
Percayalah itu membuat hatiku lebih menyenangkan.

Aku hanya akan mengingat kenangan yang menurutku manis.
Seperti saat pertama kali kita membahas pr bersama di malam hari lewat pesan singkat
saat kau menawarkan punggungmu untuk menggendongku tapi ku tolak
saat kita menertawakan hal yang seharusnya tak lucu
saat kita saling menyemangati, merindukanmu ...

September 24, 2014

Tak Ada Bahu yang Ku Kenal

Aku dilanda rasa gelisah
Antara harus menyebrang sungai yang deras alirannya atau menunggu sampai perahu datang
Dimana aku sekarang?
Ditengah keramaian aku melihat diriku duduk sendirian
Ditengah gelak tawa aku melihat diriku meringis sepi
Diantara orang-orang ini kenapa tak ada dari mereka yang menemaniku?

Aku berjalan pasti menuju tempatku duduk, kulihat tanganku sedang menulis sesuatu
diatas kertas binder di pangkuannya
Perlahan aku duduk tepat di sampingnya,
senyumku mengembang ketika disaat yang bersamaan aku melihat diriku tersenyum sendirian
Aku menyentuhnya tapi...kenapa yang ada aku menembus?
APA?! AKU HANTU?
Ah mungkin aku sedang melihat diriku di dalam mimpiku, itu mungkin sajakan?
Aku mulai penasaran apa yang sedang diriku tulis
 "Tak Ada Bahu Yang Ku Kenal"
Apa maksud judul yang diriku tulis?
"Aku menoleh kesana sini, mencari seseorang saja yang bisa kusentuh.
Aku duduk dengan gelisah, mencoba merapatkan diri kepada mereka.
Aku termenung sepi, memasuki ruangan penuh selidik.
Mereka melihatku seperti makanan basi ah apa aku terlalu berlebihan?
Mereka tertawa keras-keras seperti memamerkan mereka dan teman-teman yang mereka miliki.
Memandangku dengan pandangan sulit untukku artikan.
Pandangan tajam, menusuk dan seperti mengoyak hatiku sampai terdalam"
"Tak ada bahu yang ku kenal.
Ingin ku memanggil segala macam temanku dipenjuru dunia supaya mereka tau siapa aku.
Bahu kebanggana dan terkasihku.
Tak ada bahu yang ku kenal.
Ingin rasanya aku menghilang saja dari tempat ini.
Bersama dengan ketakutanku"

Tak ada bahu yang ku kenal.
Kau hanya belum menemukannya! Hei jangan jadi pengecut! Hadapi! suara lain dari dalam diriku menyeruak keluar.

Apa artinya tak ada sandaran ketika aku ingin berkeluh kesah ketika masa sulit?
Tak ada sandaran ketika aku ingin menumpahkan segala airmata rasa dan asa?
Tak ada sandaran ketika aku terlalu bersemangat sampai membahayakan diriku sendiri?
Apa aku akan mendapatkan bahu sandaran itu kelak?
Dimanakah?
Aku masih meracau; Tak ada bahu yang ku kenal.

Note: Hai si penyemangat, apakabarnya dirimu? Hai sahabatku, tak lupakan kau kepadaku? Hai temanku, aku ingin sekali memperkenalkan kalian kepada mereka semua!

September 16, 2014

Kenapa Tak Ada Bintang?

Malam hari di pinggir jalan di depan gang
Aku menunggu ketidakpastian

Kenapa tidak ada bintang?
Bukankah malam telah datang.
Kenapa tidak ada bintang?
Bukankah gelap telah menyergap.
Kenapa tidak ada bintang?
Bukankah langit cukup terang.
Kenapa tidak ada bintang?
Bukankah tak terdengar gemuruh petir.
Kenapa tidak ada bintang?
Bukankah lampu saja tidak cukup.
Kenapa tidak ada bintang?
Bukankah jalan semakin sepi.
Kenapa tidak ada bintang?
Bukankah bulan kesepian.

Yang kutunggu tak datang
Dan aku mulai berjalan diantara malam
Sendirian
Karena tak ada bintang

Memutar waktu dari awal aku terbangun pagi ini sampai saat ini, pulang
Sendirian
Yang terpikirkan mulai bermasalah
Seperti perang pikiran
Dan hatiku gelisah tak tentu apa
Sendirian.

Aku masih bertanya-tanya, kenapa tidak ada bintang?

September 13, 2014

Aku dan Mereka

Aku dan mereka
Aku duduk ditemani sepi
Mencoba mengerti dengan keadaan
Mencoba mencari celah kenyamanan
Dan sosoknya datang menghampiri

Aku tak lagi sepi
Hanya ada tawa dan sorot mata penuh rindu
Kami bersyukur telah dipertemukan setelah 6 tahun berpisah
Dia.. sahabat kecilku. Ayu, begitulah dulu aku memanggilnya
Kami lewati hari dengan tawa dan kenangan
Kami saling mengerti dengan keadaan

Sampai... mereka datang.
Mereka bertemu di dalam tempat yang sama
Di tempat yang sama dengan keberadaanku
Aku sadar kami semua berbeda
Pandangan, sikap dan kebiasaan
Tapi mereka membuat aku selalu ingin membenturkan kepalaku ke dinding

Mereka tertawa dengan keras
Mereka menertawakan dengan keras
Mereka mencibir dengan tajam
Mereka berbisik
Mereka menatap dengan pandangan...ugh.

Aku tak ingin dipusingkan
Aku tak ingin terbebani
Aku ingin tertawa bebas seperti mereka
Aku ingin menggila dengan kegilaan yang kumengerti
Biarkan aku, biarkan mereka, biarkan kami!

Aku bertanya-tanya dalam hati
Dan aku harap Allah swt segera menjawab tanyaku
Aku rindu mengadu
Aku rindu merajuk
Aku rindu sandaran

Jadilah aku menulis note di smartphoneku
Hal yang selalu kulakukan kala aku ingin mengadukan isi hatiku padanya
Ya, hanya lewat note-note kecil di handphoneku
Tertuju untuk seseorang yang mengisi hatiku sejak 3 tahun yang lamanya
Hai, kau baik di sana? Andai kau disini. Akan kutunjukkan pada dunia bahwa kekuatan batin kita melebihi mereka. Akan kutunjukkan pada dunia bagaimana senyumku merekah seperti bunga mawar. Akan kutunjukkan pada dunia jika aku tak sendiri. Andai aku memilikimu. 

Aku takkan terpuruk
Aku takkan mengindahkan
Aku akan berdiri tegap sambil tersenyum indah ke arah mereka
Aku akan pancarkan aura kebalikan dari mereka
Aku akan tunjukkan semangat menggebu yang selalu tertahan di dada
Aku akan tunjukkan pada dunia bahwa aku orang yang bersyukur karena ingin selalu dekat dengan Allah swt.

Someday aku dan mereka akan menjadi baik
Someday aku dan  mereka adalah partner
Someday aku maupun mereka pasti saling membutuhkan
Someday aku dan mereka akan sama-sama memakai toga dan tersenyum bangga
InsyaAllah pasti, aku akan menunggu.


Note: benar adanya aku merindukan segala-galanya kehidupan di High School. benar adanya aku merindukan sosok itu, tolong kirimi aku kekuatan untuk bertahan tak mengingatmu. tapi Ayah, aku akan ingat tujuanku.

September 10, 2014

Pertemuan dalam Mimpi

Sudah kubilangkan, aku ingin 'melupakan'mu?
Otakku bekerja tapi hatiku tidak
Lambat laun otakku melakukannya dengan baik tapi tak bisa sebaik hatiku yang terus menyangkutkan apapun tentangmu.
Tak ingin berbohong, tapi ini benar-benar sulit.
Jadi biarkan begini, ikhlaskanlah kau bertebaran dihatiku. Ewh

04.10 am
Aku terbangun dari tidurku dengan wajah yang seperti bunga bermekaran
Senyumku tak dapat kutahan lagi
Aku terus berucap syukur kepada Allah swt
Setelah cukup lama kita tak bertemu
Tapi kau datang dengan pembawaanmu yang nyata ke dalam mimpiku

Sudah kukatakan, bukan? Efek pertemuan di dalam mimpi?
Aku seperti isi ulang semangat, senyuman, hati dan pikiran
Senyumku tak mudah padam walaupun sejam-dua jam kemudian aku mendadak bete
Yang kuingat dengan jelas dari mimpi itu adalah wajahmu..
Entahlah kenapa aku tak ingat bersama siapa saja aku di dalam sana

Bagaimana kabarmu? semoga Allah selalu memberikan perlindungan padamu
Biar hanya Allah swt yang tahu makna mimpi itu
Biar aku tunggu akhir indah yang hanya akan Allah swt torehkan
Biar aku menikmati rasanya memiliki perasaan ini, sebelum benar-benar hilang.
Biar takdir yang menjawab. segala pertanyaan dalam daftar entriku

Note: Di mimpiku, kau begitu nyata dengan segala sikap acuh dan dinginmu. Tapi aku adalah orang ketiga dari mimpiku jadi aku tahu bagaimana kau diam-diam juga memperhatikanku. 
 

Bukan Melupakan

1 September 2014

Seulas senyum terukir di bibirku
Teringat kisah kita
Disaat kau dan aku tertawa bersama disela-sela pelajaran yang tengah kita bahas
Disaat kau dan aku sama-sama didera kesalahpahaman
Disaat aku memutuskan untuk melakukan sesuatu untuk merubah segalanya
Dan disaat itulah aku mengerti…
Ya. Aku mengerti seharusnya tak usah lagi kupikirkan
Aku memgerti seharusnya tak usah lagi kuingat
Bukankah itu sudah tertulis jelas di tulisan terakhir untuknya?
Ah bagaimana aku bisa sepura-pura tak mengerti?!
Pikiranku berkecamuk
Rasanya sesak mengingat obrolan singkat kita
Bagaimana mungkin aku berharap yang ‘iya-iya’
Seharusnya aku tahu diri,kan?
Aku ingin melupakan.
Aku tak ingin semua pikiranku berujung memikirkannya
Ya. Aku mengaku, memang itulah yang terjadi padaku semenjak ‘kejadian itu’
Ingin melupakan. Ingin tak mengingat. Ingin jauh padahal sudah jauh.
Tapi aku tak ingin melupakan.
Bukan. Bukan melupakan.
Aku hanya ingin membiasakan
Membiasakan untuk tak lagi mengingat, mengenang bahkan sampai merindukan.
Membiasakan untuk berlaku seakan tak terjadi apa-apa
Bukan melupakan
Hanya ingin terus melangkah tanpa ada bayang-bayangnya lagi
Melangkah menuju asa yang tak terlampaui, hanya ada aku. Dan tuhanku.
Bukan melupakan
Hanya akan tersenyum dan terus tersenyum seakan menyadari bahwa lebih baik aku begini
Hanya ingin tersenyum dan terus tersenyum ketika apapun di depan nanti terjadi
Dari sisi dia atau dariku.
Bukan melupakan
Hanya ingin mengkosongkan hati dan pikiran dan membukanya lagi kelak seandainya jodoh itu datang.
Hanya ingin tersadar kalau perasaan pikiran dan hati kita berbeda.

Aku tersenyum sekali lagi
Biarlah namanya yang memenuhi hati dan pikiranku ini kusebutkan dikala aku bertemu dengan Tuhanku. Allah SWT.
Biarlah suara aura dan senyumnya kusimpan di tempat terujung hatiku
Biarlah namanya terukir indah di dalam entri-entri diaryku.
Biarlah aku belajar mengikhlaskan segala-galanya yang belum tentu milikku.