Desember 14, 2014

Menunggu Takdir

Tapi aku melihatnya
Sebuah pandangan penuh makna
Sebuah ucapan penuh tanya
Sebuah rangkaian penuh rasa

Pandangan biasa tak seperti itu
Ucapan sederhana tak seperti itu
Rangkaian rasa telah kuterima
Namun masih sebuah rangkaian

Apa pandangan itu akan terus sama?
Menatap penuh makna tersimpan
Merasa penuh raga terdalam
Memanggil penuh rasa terhangat

Apa suara itu akan terus sama?
Mengucap dengan kalbu
Mengata dengan ragu
Menjawab dengan kelu

Aku memang tak merasa getaran dekat
Aku memang tak tahu perasaan melekat
Sejak pertama kali menatap
Sejak pertama kali melesat

Perasaan tak bernama
Perasaan tak berasa

Akhirnya, waktu aka terus tidak peduli
Berputar sesuka hati tanpa menggali
Perasaan dua orang saling menyadari
Perasaan dua orang yang jauh terlampaui

Biar aku putuskan untuk menunggu
Menunggu takdir menjawab
Menunggu dua orang saling menganggap
Perasaan luar biasa yang tergagap

Biar aku putuskan untuk menunggu
Menunggu datangnya ajaib sang Kuasa
Menunggu langkah kaki yang menggema
Menuju satu hati yang telah lama

Aku menunggu takdir
Menunggu takdir membawamu
Menunggu takdir membawaku
Menunggu takdir membawa kita

Seperti menunggu hujan di bulan desember
Seperti menunggu matahari di ufuk timur
Yang pada akhirnya
Terdengarlah kata syukur

Note: Thank you viewers. Thankyou my friends who always support me to do what I want do. Sabrina, Alya, Irma, Cemewew. Thank you for someone who always be my inspiration. And Allah SWT. Please Enjoy my blog! :-)

Bagaimana Tidak Aku berharap

Bagaimana tidak aku berharap
Ketika doa seakan terdengar

Bagai sebuah tetesan hujan
Yang jatuh beraturan
Menyalami ribuan pepohonan
Bagai sebuah dentuman petir
Yang gema bersahutan
Menyapa luasan perlangitan

Bagaimana tidak aku berharap
Ketika sapaan itu nyata

Sampai membisukan kata
Lalu denyut menggetarkan raga
Padahal tak sering berkata
Padahal tak sering menyapa
Sampai menghabiskan udara
Lalu pandang memburamkan mata
Padahal tak sering berada
Padahal tak sering merasa

Tapi bagaimana tidak aku berharap
Ketika mataku melihat
Ketika hatiku merasa
Sebuah senyuman bagai lukisan mahakarya
Sebuah aura bagai pelukan maharasa
Teruntuk untukku,
Tokoh utama yang selalu berharap

Menahan segala sorakan sepi
Gundah gulana merapat hati
Menunggu cairnya kebekuan waktu
Menunggu nyatunya kejadian satu
Peristiwa bernamakan takdir

Sat(o)urday

Kau pernah merasa
Sejuknya udara pagi ketika membuka jendela
Indahnya suara kicau burung-burung
Luasnya hamparan langin nan biru

Tapi tak pernah kurasa
Sejuknya senyuman itu ketika kita saling tersenyum
Indahnya suara itu ketika kita saling menyapa
Luasnya perasaan apa dan untuk siapa

Kau pernah merasa
Matahari selalu nampak cantik dipagi hari
Hijaunya pohon selalu nampak nyaman
Dinginnya udara kuatan raga

Tapi tak pernah kurasa
Kehadiran nyata, rasa itu ada
Kepekaan masa, rasa itu datang
Kebisuan kata, rasa itu luar biasa

Aku pernah merasa
Kita pemilik rasa yang sama
Kita pengharap rasa yang nyata
Tapi tidak ketika negatif berkata
Pada waktunya kau datang dengan si dia
Pada waktunya aku memilih bahagia

Karena kita tak pernah saling bertemu
Karena kita tak pernah saling berbicara
Karena kita hanya memandang tanpa sadar
Dan berpaling, sembunyikan senyum diam-diam

Tapi…
Rasanya taka pa aku menunggu
Sebuah senyuman dan suara memanggil
Rasanya taka pa aku menunggu
Sebuah peristiwa pasti, ternyata takdir 

Note: Lama gak ketemu laptop, jadi geregetan sendiri mau post banyak tulisan. Dengan inspirator berbeda di setiap kata. Enjoy!:-)

Melangkah

#Bagian Tiga

Adanya lampu padam
Aku jadi sadar,
Bahwa bulan tidak seterang surya

Adanya lampu pada
Aku jadi sadar,
Bahwa bintang tidak sedikit

Adanya lampu pada
Aku jadi sadar,
Bahwa malam tidak segelap hitam

Adanya lampu padam
Aku jadi sadar,
Bahwa langit malam begit  indah

Bagaimana aku jelaskan
Kalimat yang sering kusebutkan dengan kokohnya
Namun selalu hanya untaian pada akhirnya

Takkan kubiarkan kalimat itu keluar lagi
Takkan kubiarkan hati ini terenyuh lagi
Bahwa sudah jelas keadaan
Bahwa sudah jelas kenyataan

Biar hati yang berucap
Biar hati yang tahu
Jika aku ingin bersungguh
Jika aku ingin benar-benar

Bukan lagi 10 langkah di belakangnya
Namun 100 langkah di depannya

Biar sang Maha yang berkuasa
Biar sang Maha yang terbiasa
Jika aku ingin berharap
Jika aku ingin diharap

Kututupi saja perasaan ini
Kubentengi saja hati ini
Sampai waktu itu datang
Sampai waktu itu tiba

Seperti indahnya senyuman seorang ibu
Aku kan tersenyum menyambut
Seperti hangatnya pelukan seorang ayah
Aku kan menghambur hangat

Biarku jaga hati ini
Biarku simpan senyum ini

Untuk seseorang yang tak ku ketahui
Untuk seseorang yang ku mengabdi

Note: 27 November 2014

Melangkah

#Bagian Dua

Masih memandang langit tanpa bintang
Masih ditemani dingin tanpa kopi
Masih tak tersentuh dan tak menyentuh

Mencintai itu bahagia,
Tapi kenapa tak terjadi ketika mencintaimu?

Memang takdir bukan milik kita
Memang cinta bukan untuk kita

Tak semudah menghapus coretan pensil
Perasaan ini telah mengakar layaknya pohon beringin
Bagaimana perasaan bisa sebegininya
Mencintai dalam-dalam membenci tiba-tiba

Melihatmu bersama orang lain
Sakit memang, jika jujur
Aku memberi padamu dank au memberi padanya
Bagaimana perasaan bisa sebegininya

Langkah keduaku untuk melupakan
Langkah keduaku untuk menjauhkan
Dengan melihatmu bersama yang lain
Dengan menganggapmu sudah dengan yang lain

Sampai perasaan itu benar-benar terkikis
Sudah seharusnya kau bersama seseorang
Sudah seharusnya ku hentikan laju perasaan

Sampai jumpa di langkah ketiga
Langkah penghabisan antara perasaan
Langkah penghabisan antara kenyataan
Langkah untuk sepuluh langkah jauh

Note: 16 November 2014