September 30, 2014

Bertanya pada bintang

Bintang.
Namanya kesukaanku
Auranya kehangatanku

Aku bertanya pada bintang ‘apa kita bisa lebih dekat?’
Tapi bintang hanya bergeming
Aku bertanya pada bintang ‘kita terlalu jauh, apa kau akan terus disana?’
Tapi bintang tetap bergeming

Bintang.
Aku menjawab semua pertanyaannya tentang materi aljabar
Aku menjawab semua pertanyaannya tentang reaksi kimia

Aku bertanya pada bintang ‘apa aku bisa memilikimu?’
Tapi bintang tak mengindahkan
Aku bertanya pada bintang ‘apa kau bisa tak berdekatan dengan yang lain? Aku…cemburu’
Tapi bintang masih tak mengindahkan

Bintang.
Aku melihat senyum sempurnanya tapi seketika hilang begitu saja
Aku melihat binar matanya tapi seketika redup begitu saja

Seperti pertanyaan aku pada bintang
Seperti itupun dirinya tak mengindahkan
Seperti harapan aku pada bintang
Seperti itupun dirinya menghempaskan
Seperti kagum aku pada bintang
Seperti itulah aku mengagumimu

Jauh tapi selalu dapat terlihat
Tak terjangakau tapi selalu dapat tersinar

Tak terhitung berapa jumlahnya
Terlalu banyak jenisnya

Aku ingin jadi…bulan
Yang memberi cahaya sinar terang
Yang menemani hinggap hingga fajar
Yang selalu ada disisi…selamanya
Takkan terganti.

September 25, 2014

Motivasiku

Walau jarak telah memisah
Dan kita tak terjangkau
Walau tempat telah berbeda
Dan kita tak saling bertatap muka

Memang tak ada debar menyelutup
Yang ada debar terpendam
Memang tak ada takut dalam kesenangan
Yang ada takut dalam hati

Meski kau anggap aku aneh
Nyatanya ini memang aku

Wajahmu masih jelas dalam ingatanku
Tawamu masih terngiang dalam pendengaranku
Auramu masih sampai menembus lamunanku
Sudah kubilang, bukan?

Keseriusan dan tekad yang kutangkap saat melihat wajahmu diam-diam
Telah menembus pertahanan akan lemahnya diriku
Motivasiku, mengubah tangis menjadi senyumku
Renyah tawa dan lelucon yang sengaja kau tunjukkan
Mampu menyejukkan panasnya hati dan pikiranku
Motivasiku, membuat kekuatan terdalam baruku

Seperti matahari yang terus menerangi dunia
Seperti itulah kau terus menerangkan hati
Seperti sejuknya embun sisa-sisa hujan semalam
Seperti itulah kau terus tentramkan hati

Meski masih kau anggap aku aneh
Biarkan aku menikmati
Tetap menjadikanmu salah satu motivasiku supaya tak runtuh
Sebelum semuanya hilang, dan tinggal kenangan.

p.s : percaya tidak, bertemu denganmu dalam mimpi
membuat hariku seratus kali lebih menyenangkan
Membayangkan betapa menjengkelkannya dirimu kala itu
membuat senyumku berkembang seketika
Memikirkan tanda-tanda dariku yang tak pernah kau sadari
membuatku menggetok kepalaku sendiri
Percayalah itu membuat hatiku lebih menyenangkan.

Aku hanya akan mengingat kenangan yang menurutku manis.
Seperti saat pertama kali kita membahas pr bersama di malam hari lewat pesan singkat
saat kau menawarkan punggungmu untuk menggendongku tapi ku tolak
saat kita menertawakan hal yang seharusnya tak lucu
saat kita saling menyemangati, merindukanmu ...

September 24, 2014

Tak Ada Bahu yang Ku Kenal

Aku dilanda rasa gelisah
Antara harus menyebrang sungai yang deras alirannya atau menunggu sampai perahu datang
Dimana aku sekarang?
Ditengah keramaian aku melihat diriku duduk sendirian
Ditengah gelak tawa aku melihat diriku meringis sepi
Diantara orang-orang ini kenapa tak ada dari mereka yang menemaniku?

Aku berjalan pasti menuju tempatku duduk, kulihat tanganku sedang menulis sesuatu
diatas kertas binder di pangkuannya
Perlahan aku duduk tepat di sampingnya,
senyumku mengembang ketika disaat yang bersamaan aku melihat diriku tersenyum sendirian
Aku menyentuhnya tapi...kenapa yang ada aku menembus?
APA?! AKU HANTU?
Ah mungkin aku sedang melihat diriku di dalam mimpiku, itu mungkin sajakan?
Aku mulai penasaran apa yang sedang diriku tulis
 "Tak Ada Bahu Yang Ku Kenal"
Apa maksud judul yang diriku tulis?
"Aku menoleh kesana sini, mencari seseorang saja yang bisa kusentuh.
Aku duduk dengan gelisah, mencoba merapatkan diri kepada mereka.
Aku termenung sepi, memasuki ruangan penuh selidik.
Mereka melihatku seperti makanan basi ah apa aku terlalu berlebihan?
Mereka tertawa keras-keras seperti memamerkan mereka dan teman-teman yang mereka miliki.
Memandangku dengan pandangan sulit untukku artikan.
Pandangan tajam, menusuk dan seperti mengoyak hatiku sampai terdalam"
"Tak ada bahu yang ku kenal.
Ingin ku memanggil segala macam temanku dipenjuru dunia supaya mereka tau siapa aku.
Bahu kebanggana dan terkasihku.
Tak ada bahu yang ku kenal.
Ingin rasanya aku menghilang saja dari tempat ini.
Bersama dengan ketakutanku"

Tak ada bahu yang ku kenal.
Kau hanya belum menemukannya! Hei jangan jadi pengecut! Hadapi! suara lain dari dalam diriku menyeruak keluar.

Apa artinya tak ada sandaran ketika aku ingin berkeluh kesah ketika masa sulit?
Tak ada sandaran ketika aku ingin menumpahkan segala airmata rasa dan asa?
Tak ada sandaran ketika aku terlalu bersemangat sampai membahayakan diriku sendiri?
Apa aku akan mendapatkan bahu sandaran itu kelak?
Dimanakah?
Aku masih meracau; Tak ada bahu yang ku kenal.

Note: Hai si penyemangat, apakabarnya dirimu? Hai sahabatku, tak lupakan kau kepadaku? Hai temanku, aku ingin sekali memperkenalkan kalian kepada mereka semua!

September 16, 2014

Kenapa Tak Ada Bintang?

Malam hari di pinggir jalan di depan gang
Aku menunggu ketidakpastian

Kenapa tidak ada bintang?
Bukankah malam telah datang.
Kenapa tidak ada bintang?
Bukankah gelap telah menyergap.
Kenapa tidak ada bintang?
Bukankah langit cukup terang.
Kenapa tidak ada bintang?
Bukankah tak terdengar gemuruh petir.
Kenapa tidak ada bintang?
Bukankah lampu saja tidak cukup.
Kenapa tidak ada bintang?
Bukankah jalan semakin sepi.
Kenapa tidak ada bintang?
Bukankah bulan kesepian.

Yang kutunggu tak datang
Dan aku mulai berjalan diantara malam
Sendirian
Karena tak ada bintang

Memutar waktu dari awal aku terbangun pagi ini sampai saat ini, pulang
Sendirian
Yang terpikirkan mulai bermasalah
Seperti perang pikiran
Dan hatiku gelisah tak tentu apa
Sendirian.

Aku masih bertanya-tanya, kenapa tidak ada bintang?

September 13, 2014

Aku dan Mereka

Aku dan mereka
Aku duduk ditemani sepi
Mencoba mengerti dengan keadaan
Mencoba mencari celah kenyamanan
Dan sosoknya datang menghampiri

Aku tak lagi sepi
Hanya ada tawa dan sorot mata penuh rindu
Kami bersyukur telah dipertemukan setelah 6 tahun berpisah
Dia.. sahabat kecilku. Ayu, begitulah dulu aku memanggilnya
Kami lewati hari dengan tawa dan kenangan
Kami saling mengerti dengan keadaan

Sampai... mereka datang.
Mereka bertemu di dalam tempat yang sama
Di tempat yang sama dengan keberadaanku
Aku sadar kami semua berbeda
Pandangan, sikap dan kebiasaan
Tapi mereka membuat aku selalu ingin membenturkan kepalaku ke dinding

Mereka tertawa dengan keras
Mereka menertawakan dengan keras
Mereka mencibir dengan tajam
Mereka berbisik
Mereka menatap dengan pandangan...ugh.

Aku tak ingin dipusingkan
Aku tak ingin terbebani
Aku ingin tertawa bebas seperti mereka
Aku ingin menggila dengan kegilaan yang kumengerti
Biarkan aku, biarkan mereka, biarkan kami!

Aku bertanya-tanya dalam hati
Dan aku harap Allah swt segera menjawab tanyaku
Aku rindu mengadu
Aku rindu merajuk
Aku rindu sandaran

Jadilah aku menulis note di smartphoneku
Hal yang selalu kulakukan kala aku ingin mengadukan isi hatiku padanya
Ya, hanya lewat note-note kecil di handphoneku
Tertuju untuk seseorang yang mengisi hatiku sejak 3 tahun yang lamanya
Hai, kau baik di sana? Andai kau disini. Akan kutunjukkan pada dunia bahwa kekuatan batin kita melebihi mereka. Akan kutunjukkan pada dunia bagaimana senyumku merekah seperti bunga mawar. Akan kutunjukkan pada dunia jika aku tak sendiri. Andai aku memilikimu. 

Aku takkan terpuruk
Aku takkan mengindahkan
Aku akan berdiri tegap sambil tersenyum indah ke arah mereka
Aku akan pancarkan aura kebalikan dari mereka
Aku akan tunjukkan semangat menggebu yang selalu tertahan di dada
Aku akan tunjukkan pada dunia bahwa aku orang yang bersyukur karena ingin selalu dekat dengan Allah swt.

Someday aku dan mereka akan menjadi baik
Someday aku dan  mereka adalah partner
Someday aku maupun mereka pasti saling membutuhkan
Someday aku dan mereka akan sama-sama memakai toga dan tersenyum bangga
InsyaAllah pasti, aku akan menunggu.


Note: benar adanya aku merindukan segala-galanya kehidupan di High School. benar adanya aku merindukan sosok itu, tolong kirimi aku kekuatan untuk bertahan tak mengingatmu. tapi Ayah, aku akan ingat tujuanku.

September 10, 2014

Pertemuan dalam Mimpi

Sudah kubilangkan, aku ingin 'melupakan'mu?
Otakku bekerja tapi hatiku tidak
Lambat laun otakku melakukannya dengan baik tapi tak bisa sebaik hatiku yang terus menyangkutkan apapun tentangmu.
Tak ingin berbohong, tapi ini benar-benar sulit.
Jadi biarkan begini, ikhlaskanlah kau bertebaran dihatiku. Ewh

04.10 am
Aku terbangun dari tidurku dengan wajah yang seperti bunga bermekaran
Senyumku tak dapat kutahan lagi
Aku terus berucap syukur kepada Allah swt
Setelah cukup lama kita tak bertemu
Tapi kau datang dengan pembawaanmu yang nyata ke dalam mimpiku

Sudah kukatakan, bukan? Efek pertemuan di dalam mimpi?
Aku seperti isi ulang semangat, senyuman, hati dan pikiran
Senyumku tak mudah padam walaupun sejam-dua jam kemudian aku mendadak bete
Yang kuingat dengan jelas dari mimpi itu adalah wajahmu..
Entahlah kenapa aku tak ingat bersama siapa saja aku di dalam sana

Bagaimana kabarmu? semoga Allah selalu memberikan perlindungan padamu
Biar hanya Allah swt yang tahu makna mimpi itu
Biar aku tunggu akhir indah yang hanya akan Allah swt torehkan
Biar aku menikmati rasanya memiliki perasaan ini, sebelum benar-benar hilang.
Biar takdir yang menjawab. segala pertanyaan dalam daftar entriku

Note: Di mimpiku, kau begitu nyata dengan segala sikap acuh dan dinginmu. Tapi aku adalah orang ketiga dari mimpiku jadi aku tahu bagaimana kau diam-diam juga memperhatikanku. 
 

Bukan Melupakan

1 September 2014

Seulas senyum terukir di bibirku
Teringat kisah kita
Disaat kau dan aku tertawa bersama disela-sela pelajaran yang tengah kita bahas
Disaat kau dan aku sama-sama didera kesalahpahaman
Disaat aku memutuskan untuk melakukan sesuatu untuk merubah segalanya
Dan disaat itulah aku mengerti…
Ya. Aku mengerti seharusnya tak usah lagi kupikirkan
Aku memgerti seharusnya tak usah lagi kuingat
Bukankah itu sudah tertulis jelas di tulisan terakhir untuknya?
Ah bagaimana aku bisa sepura-pura tak mengerti?!
Pikiranku berkecamuk
Rasanya sesak mengingat obrolan singkat kita
Bagaimana mungkin aku berharap yang ‘iya-iya’
Seharusnya aku tahu diri,kan?
Aku ingin melupakan.
Aku tak ingin semua pikiranku berujung memikirkannya
Ya. Aku mengaku, memang itulah yang terjadi padaku semenjak ‘kejadian itu’
Ingin melupakan. Ingin tak mengingat. Ingin jauh padahal sudah jauh.
Tapi aku tak ingin melupakan.
Bukan. Bukan melupakan.
Aku hanya ingin membiasakan
Membiasakan untuk tak lagi mengingat, mengenang bahkan sampai merindukan.
Membiasakan untuk berlaku seakan tak terjadi apa-apa
Bukan melupakan
Hanya ingin terus melangkah tanpa ada bayang-bayangnya lagi
Melangkah menuju asa yang tak terlampaui, hanya ada aku. Dan tuhanku.
Bukan melupakan
Hanya akan tersenyum dan terus tersenyum seakan menyadari bahwa lebih baik aku begini
Hanya ingin tersenyum dan terus tersenyum ketika apapun di depan nanti terjadi
Dari sisi dia atau dariku.
Bukan melupakan
Hanya ingin mengkosongkan hati dan pikiran dan membukanya lagi kelak seandainya jodoh itu datang.
Hanya ingin tersadar kalau perasaan pikiran dan hati kita berbeda.

Aku tersenyum sekali lagi
Biarlah namanya yang memenuhi hati dan pikiranku ini kusebutkan dikala aku bertemu dengan Tuhanku. Allah SWT.
Biarlah suara aura dan senyumnya kusimpan di tempat terujung hatiku
Biarlah namanya terukir indah di dalam entri-entri diaryku.
Biarlah aku belajar mengikhlaskan segala-galanya yang belum tentu milikku.


September 07, 2014

Kaulah Kamuku



Tak pernahkah kau sadari?
Tak sedikitpun kau berpikir?
Tak adakah sedikit alasan untukmu mencaritahu?
Sepertinya aku ingin sekali menularkan sifat kepoku kepadamu

Apa hanya kepadaku saja tak ada rasa ingin tahu lebih?
Ah iya, siapa aku?
Tak adakah yang menarik perhatianmu?
Tak pernahkah kau menolehkan wajahmu tuk melihat apa yang aku tulis di sini?
Apakau masih belum merasa?
Apakau tak ingin bertanya?
Kenapa kau sangat sangat tidak peka kepadaku, HEI?!

Rasanya aku pernah berpikir pasti kau mencaritahu tentang gadis incaranmu
Pasti kau pernah mengkepo-kepokan gadis itu sampai ‘kepo berujung sesek?’
Ya ampun. Bodohnya aku ini. Ya jelaslah, dia kan gadis incaranmu….
Ketika pertama kali perasaan itu datang
Aku menyibukkan diriku bergulat dengan buku dan tinta hitamku menorehkan segala gemuruh perasaan di hati
Tak jarang laptop menjadi incaranku untuk mempost-kan tulisanku yang jelas-jelas kutujukan untuk ‘kamu’
Sampai ke slide note di handphoneku yang penuh dengan kata-kata ajaib yang keluar dari dalam otakku. Entah puisi atau sajak. Entah cerita atau dongeng. Entah fiksi atau nonfiksi.
Yap. engkaulah kamuku.
Engkaulah tokoh ‘kamu’ atau ‘dia’ didalam setiap entri post-anku.
Engkaulah kamuku yang sering di dengar oleh para sahabat dekatku.
Engkaulah kamuku yang selalu dilontarkan batinku.

Engkaulah kamuku, yang masih belum sadar, dan tetap bergeming ketika aku berkoar-koar mempromosikan tulisan abalku tentang-mu
Masih tak tahu ya?
Yasudah tak apa, lagian tak penting.
Aku akan menunggu someday. Ketika kau melihat dan sempat membaca semuanya.

Note: tunggulah tulisan selanjutnya, tapi jangan kecewa jika nanti itu bukan untuk-mu.