Aku
mengerjap-ngerjap mataku
Bangun di
tengah malam ditambah dengan mimpi buruk seperti ini memang tidak menyenangkan
sama sekali
Tapi tunggu
dulu. Apa benar yang tadi itu hanya mimpi?
Kenapa
terasa begitu nyata?
Bukan. Itu
bukan sebuah mimpi melainkan nyata
Kenyataan
yang menyatakan bahwa aku tidak lolos sbmptn
Aku
baik-baik saja
Bohong. Itu
bohong. Aku benar-benar tidak baik-baik saja
Segala
perasaan buruk bermunculan
Dengan mata
yang begitu berat kuhelakan nafas panjang
Airmata yang
benar-benar sudah kupersiapkan untukku jatuhkan di dalam hati saja ternyata
gagal
Sudah lama
memang aku tidak menangis sesegukkan seperti ini
Yang aku
khawatirkan bukanlah pada diriku sendiri
Terlebih
kepada kedua orang tuaku
Walaupun
mereka berkata “Gapapa, dimana aja kamu kuliah itu sama saja”
Tapi jauh di
dalam hati mereka pasti mereka kecewa, kan?
Disaat
anak-anak teman-teman mereka dengan bangganya masuk ke PTN tapi tidak dengan
anaknya
Mereka diam.
Segala
upadaya telah aku lakukan namun Tuhan, Allah SWT belum menghendaki
“Jika Allah telah menghendaki tidak
ada sesuatupun yang dapat mengubahnya”
Aku memang
tidak mempersiapkan dengan matang, doaku juga masih setengah-setengah
Aku tidak
sepintar yang aku pikirkan
Tapi ketika
aku mengikutinya benar-benar ada sebongkah harapan dalam hatiku
Kalau-kalau
aku bisa di terima PTN
Rasanya
lelah dengan diri sendiri
Apa aku
berpikir ini begitu mudah?
Rasanya aku
ingin berteriak sekeras mungkin
Harapan itu
hilang, bayangan itu redup dan segalanya berubah
Sampai aku
melihat seberkas cahaya nampak silau seakan keluar dari dalam mata Ayahku…
Aku yakin
beliaulah yang paling sakit dari aku
Aku yakin
beliaulah yang paling tersiksa melihatku
Tapi mata
itu sama sekali tidak menyiratkan segala perasaan sakit
Bahkan mata
itu berbinar, memberiku kekuatan untuk menghentikan tangisku
Tidak. Aku
bahkan akan terus menangis ketika melihat wajah tenangnya
Dengan
teduhnya beliaulah yang mengantarkan aku mengambil harapan demi harapan
Dengan
teduhnya beliaulah yang menyiratkan kekhawatiran yang menghujan jantungku
Dengan
teduhnya beliaulah yang membangkitkan segala keputusasaanku
“Sabar nak,
Allah pasti punya jalan yang terbaik. Allah pasti bantu kamu dikemudian hari.
Jangan menjauh, karena Allah udah semakin dekat sama kamu”
Dalam diam
tangisku aku meny-iyakannya
"Kadang sebuah pelukan dapat
menyalurkan sebuah perasaan si yang dipeluk dengan si pemeluk, walaupun si
pemeluk tidka berkata apapun namun sebernarnya si pemeluk tahu betul bagaimana
kesedihan si yang dipeluk sehingga perasaan apapun si yang dipeluk sedikit
meredam"
Aku memang
membutuhkan segala hal yang menguatkan aku
Aku memang
membutuhkan segala hal yang membangunkan aku
“Kau akan
langsung menangis ketika kau merasa harus menangis saat melihat orang yang
begitu menyentuh hatimu, baik –kakak –adik –saudaramu –teman karena kamu
mungkin hanya nyaman menangis di depannya”
Sampai aku
bertemu dengan orang-orang terdekatku
Ya. Mereka
saudara-saudaraku
“Kalau
tujuan kamu Sarjana. Dimanapun kamu mau kuliah kamu bisa ambil gelar itu”
“Tunjukin
kamu bisa berkembang di tempat kuliah kamu. Supaya tempat kuliah lain nyesel
gak nerima kamu”
“Lakukan
apapun yang udah jadi jalan Allah dengan ikhlas dan senang hati, niscaya Allah
beri kemudahan”
“Mulai saat
ini gue gak akan bilang ‘Semangat!’ tapi gue akan bilang ‘Halo! Kenalin, gue semangat
lu. Gue akan terus tunggu lu di depan. Lo harus kejar gue dan semakin maju ke depan’”
Seperti
itulah benih-benih harapan mulai tumbuh di dalam hati dan pikiranku
Aku akan
berusaha ikhlas dan senang hati
Aku yakin
benar, bahwa Allah melihat Allah mendengar Allah mengetahui apa yang tidak aku
ketahui
Jadi aku
hanya perlu bersabar
Karena Allah
akan balas segala doa dan permintaanku kelak
Jadi aku
hanya akan melakukan dengan senang hati dan terus mengingat Allah dalam setiap
senyum dan langkahku
Kelak aku
hanya akan menangis ketika mengingat bagaimana Allah sangat memperhatikan aku
Aku akan
menangis mengingat bagaimana Allah mengabulkan segala doaku
Aku akan
menangis mengingat bagaimana Allah memberikan yang terbaik untuk hidupku di
kemudian hari.



