Juli 20, 2014

Teman Dunia Akhirat


Masa kecil memang membahagiakan khususnya untuk anak kecil
Mereka berlarian tertawa dan menangis di setiap moment
Mereka mulai mengenal satu sama lain
Berteman, berlindung, dan saling menjaga
Seperti layakanya persaudaraan
Si kakak ingin melindungi adiknya
Begitu juga Si adik yang selalu ingin dimanjakan oleh Si kakak
Ketika teman yang lain mengusik salah satu diantaranya
Yang lain langsung membusungkan dada
Tak ingin saudaranya diusik atau bahkan disakiti
Seperti itulah bentuk kasih sayang

Tahun ke tahun
Sampai adik-kakak itu beranjak dewasa
Tak ada lagi bermain bersama
Tak ada lagi tertawa bersama
Tak ada lagi perlindungan dan tak ada lagi kasih sayang
Sibuk dengan urusannya masing-masing
Sibuk dengan dunianya masing-masing
Dengan kenalan baru, teman baru- bahkan mereka menyebutnya sahabat baru sama saja dengan ‘saudaraku’
Bermain tak kenal waktu, bercanda, tertawa
Bahkan mengirim tanda cinta
Selalu menyempatkan untuk mengucapkan ‘Lo tuh sahabat gue banget, udah kaya adik-kakak gue. Gue sayang sama lo banget’
Namun ketika sampai di rumah
Lalu adik-kakak itu saling bertemu
Hanya tatapan datar yang diperlihatkan
Juga tak jarang adu mulut yang menggema di rumah itu
Mereka tak sadar, belum sadar

google.com

Bergaul dengan banyak teman
Bersusah payah mengumpulkan uang untuk sekedar membelikan ‘gelang persahabatan’ yang ujung-ujungnya akan rusak atau yang lebih sakitnya tidak dipakai
Bersusah payah membelikan kue ulang tahu ataupun kado untuk sahabatnya
Tapi tidak untuk saudaranya sendiri
‘Kita sahabat sehati sejati sejiwa, ya gak sih?’
Kata-kata yang akan terdengar sakit ketika di dengar oleh saudaranya
Bagaimana tidak?
Si kakak sakit, dua hari kemudian Si adik yang sakit
Suatu ketika dan tanpa di duga Si kakak dalam keadaan berbahaya dan ternyata ditempat yang berbeda Si adik merasakan sakit yang teramat di dadanya
Pikirannya sudah melayang kepada Si kakak
Dia tahu betul ada yang tidak beres
Apa itu namanya?
Kalau dengan sahabat aja yang ‘kebetulan’ pakai baju sama dibilang sehati

Sampai pada suatu hari salah satu dari keduanya –Si Adik
Merasakan jatuh yang amat sangat dalam
Lebih dari kehilangan harapan, di dalam pikirannya
Ingin menangis tapi tak ada tempat untuk curhat
Ingin merefres otak tapi tak ada teman datang
Lalu kemudian Si kakak yang merasakan sakit di dadanya datang
Dengan tatapan datar ditanyalah Si adik
Namun bukan menjawab pertanyaan Si adik justru langsung memeluk Si kakak
Tanpa piker panjang Si kakak membalas pelukan itu
Mereka diam namun dalam diam mereka menguatkan satu sama lain

Dengan pelukan singkat itu juga mereka sadar
Tidak ada yang lebih dekat dan nyaman dari pada seorang saudara
Lahir dengan rahim yang sama
Tidur dalam gendongan yang sama, atap yang sama
Mengalir dalam darah yang sama
Berada sangat dekat walaupun kenyataan jauh
Sahabat memang penting untuk memotivasi setiap langkahmu
Tapi saudara adalah yang paling penting untuk menuntun langkahmu
Sahabat memang tempat curhat paling menyenangkan
Tapi saudara adalah tempat paling aman dan nyaman
Sahabat memang kadang mengerti posisi kita di setiap keadaan
Tapi saudara adalah yang paling mengerti kita secara batiniah

Dan mereka tersadar akan suatu hal
Ketika salah satu dari keduanya menangis
Yang satu sekuat tenaga untuk menahan tangis itu, terlalu sulit memang
Ketika salah satu dari keduanya mengirim tanda kasih sayang kepada temannya
Yang satu sekuat tenang untuk tak tersakiti, asal itu menyenangkan
Ketika salah satu dari keduanya berada dalam ancaman orang lain
Yang satu dalam diam menghadang dari depan, tak ingin melihat saudaranya tersakiti
Saudaramu lebih dari teman
Mereka lebih dari sahabatmu, jauh lebih mengerti dan memahamimu
Kau sakit mereka lebih sakit, kau senang mereka lebih senang
Saudaramu adalah yang akan menjadi teman dunia-akhiratmu
Mendekatlah kepada orang-orang yang membantumu berdiri ketika kau jatuh
Mendekatlah kepada orang-orang yang memberimu harapan di ujung keputusasaanmu
Mendekatlah kepada orang-orang yang mengenalmu lebih dalam yaitu saudaramu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.